Dolly P Pulungan

All Out, Jangan Setengah-setengah

All Out, Jangan Setengah-setengah
Dolly Pulungan. ( Foto: Istimewa )
Tri Listiyarini / AB Rabu, 1 Agustus 2018 | 12:22 WIB

Dolly P Pulungan tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja. Segenap tenaga dan pemikiran dicurahkannya demi mendapatkan hasil yang maksimal. Bekerja harus all out! Begitulah prinsip yang selalu dipegang teguh pria kelahiran Surabaya, 25 Oktober 1963, tersebut sejak memulai karier di bidang keuangan dan perbankan pada 1990.

Pun, hingga kini menjadi orang nomor satu di Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Dolly tetap menerapkan prinsip tersebut. Apalagi Kementerian BUMN mengamanatkan kinerja empat PT Perkebunan Nusantara (PTPN) di bawah naungan holding BUMN perkebunan harus positif. Alhasil, prinsip itu menjadi mutlak.

"Kalau kerja harus all out, jangan setengah-tengah, sehingga hasilnya sesuai harapan, di samping harus memiliki passion tentunya," kata Dolly di Jakarta, baru-baru ini.

Tidak mudah membenahi BUMN yang merugi dan berpotensi kolaps. Namun, bagi Dolly Pulungan, hal itu dianggapnya sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Maka, sejumlah strategi tengah dan telah dijalankan Dolly Pulungan, mulai dari merestrukturisasi keuangan, menggenjot ekspor, hingga memperkuat bisnis hilir (downstream). Harapannya, akhir tahun ini sudah tidak ada lagi PTPN di bawah naungan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III yang berkinerja negatif.

Dolly menganggap tugas berat sebagai tantangan karena berkarier di BUMN perkebunan yang memiliki basis komoditas adalah cita-citanya. Salah satu alasannya adalah karena komoditas, seperti sawit, tebu, dan karet, ibarat tanaman suci yang semua bagian tanamannya bisa dimanfaatkan. Tidak seperti bisnis penerbangan, perkebunan adalah bisnis yang berkesinambungan (sustainable) dan tahan banting dari krisis. Artinya, asal bisa berkreasi sesuai pakem, maka dampaknya akan luar biasa, bukan hanya bagi karyawan BUMN, tetapi juga masyarakat sekitar, bahkan bagi bangsa dan negara melalui setoran dividen.

Di sisi lain, berkarier di BUMN, menurut Dolly, adalah kebalikan dari swasta. “Di BUMN itu kita tidak bisa sendirian. Ada tim, ada sifat gotong royong, ramai-ramai, karena sifatnya yang padat karya. Jadi, ketika BUMN memiliki kinerja bagus maka dampaknya akan terasa langsung pada peningkatan kesejahteraan karyawan hingga level bawah,” ujar Dolly.

Lalu, apa saja terobosan yang akan ditempuh Dolly Pulungan selanjutnya untuk memajukan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III? Seperti apa mimpi, filosofi, dan gaya kepemimpinan ayah satu putra tersebut? Berikut wawancara dengannya:

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda?
Saya mengawali karier di bidang keuangan dan perbankan, di instansi swasta. Baru pada 2007, saya mendapat perintah dari Menteri BUMN Sofyan Djalil (waktu itu) untuk menjadi direktur keuangan di PTPN X (Persero). Cukup lama di PTPN X dan pada 2014, saya diminta Menteri BUMN Rini Soemarno menjadi direktur utama PTPN XI (Persero). Pada 2017, di Berdikari (Persero), saya hanya tiga bulan, lalu di PT Garam (Persero) juga hanya tiga bulan, masing-masing untuk posisi direktur utama. Pada Februari 2018, saya mendapat amanat baru di Holding Perkebunan Nusantara PTPN III.

Apa yang menarik dari bidang perkebunan?
Sebenarnya saat berkarier di bidang keuangan dan perbankan, saya sudah tertarik pada bidang perkebunan atau komoditas. Saat itu, saya melihat potensi BUMN perkebunan begitu luar biasa. Saat krisis ekonomi, tidak ada satu pun BUMN perkebunan yang bermasalah. Artinya, BUMN yang berorientasi komoditas itulah yang paling tahan banting.

Artinya pula, BUMN-BUMN perkebunan ini sebenarnya sudah luar biasa. Hanya masalah kemampuan financial engineering yang saya lihat masih cukup lemah. Kalau dilakukan test drive sedikit, lakukan financial engineering dan jalankan standar operasional prosedur (SOP), maka kinerjanya bisa langsung melesat, naik signifikan.

Artinya, karier saat ini sesuai cita-cita Anda?
Ya, ini cita-cita saya, karier yang saya inginkan, membawa BUMN bisa berkontribusi kepada negara berupa dividen dan seperti pernyataan Bu Menteri BUMN, fungsi BUMN sebagai agen pembangunan bisa dijalankan. Apalagi PTPN saat ini memiliki 120.000 karyawan tetap dengan lahan 1,10 juta hektare (ha). Ini potensi yang luar biasa dan mestinya bisa berkontribusi besar kepada bangsa dan negara.

Kalau kami di BUMN sejahtera, otomatis rakyat sekitar juga sejahtera melalui program bina lingkungan, kemitraan, dan juga corporate social responsibility (CSR). Harapannya, stakeholders BUMN happy dengan kehadiran PTPN yang ada, mulai dari Aceh hingga Sulawesi dan sebagian Maluku.

Cara Anda beradaptasi saat berkarier di BUMN?
Saya melakukan penyesuaian. Sebenarnya, yang membedakan swasta dan BUMN itu adalah kulturnya karena raw material-nya memang beda. Di BUMN itu cenderung banyak tenaga kerja sehingga apabila salah posting, mereka malah merasa malas. Misalnya satu divisi diisi 50 orang, padahal sebenarnya cukup 20 orang, sehingga kompetisi menjadi berat.

Dampaknya, kultur pemerataan skill tidak bisa berimbang. Kami lakukan coaching, perbaiki assessment supaya sumber daya manusia (SDM) PTPN bisa berkompetisi di luar. Penyesuaian lain adalah dari sisi struktur keuangan. Struktur atau model keuangan PTPN yang memang cenderung konvensional dibenahi. Itu yang selama ini menjadi kelemahan BUMN, dalam hal ini PTPN.

Selama di BUMN, terobosan apa yang sudah Anda buat?
Saat di PTPN X, misalnya, PTPN X adalah perusahaan yang mau kolaps, tetapi kemudian bisa untung. Yang paling membuat saya senang, PTPN X sampai menerbitkan obligasi dengan bunga sangat murah. Kami juga bahagia karena produk gula PTPN X bisa leading di antara BUMN gula, pendapatan dan profitnya pun paling tinggi.

PTPN X kalau terlambat ditangani, potensi loss-nya hampir Rp 450 miliar. Juga saat di PT Garam, misalnya, BUMN itu terus merugi karena model bisnisnya keliru dan mesti diubah. Dulu, PT Garam membeli garam rakyat Rp 300-400 per kg dan menjualnya ke produsen langsung Rp 800 per kg. Ketika kami masuk, kami ubah model bisnisnya, kami putuskan beli garam rakyat Rp 1.500 per kg dan dijual ke processing Rp 4.000 per kg. Ternyata bisa karena untuk garam konsumsi masih monopoli. Artinya, dulu kita terlalu takut dengan para prosesor yang notabene bisa jual Rp 6.000 per kg.

Khusus di Holding PTPN, strategi atau terobosan Anda apa saja?
Pertama, merestrukturisasi empat PTPN yang punya masalah finansial, yakni PTPN VII, PTPN VIII, PTPN IX, dan PTPN XIII. Kami menggandeng Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) untuk menyelesaikan persoalan itu secara komersial. PTPN III Holding (Holding Perkebunan Nusantara) sebagai penjamin atau top up fasilitas pinjaman. Kalau ini selesai, seluruh anak usaha PTPN III Holding tidak ada yang lose. Targetnya, tahun ini dengan restrukturisasi itu semua positif, bisa profit.

Kedua, kami di holding memiliki strategi profiling pinjaman maupun pendanaan semua di holding company dan tidak di anak perusahaan. Jadi, kalau mau menerbitkan obligasi, ya PTPN III Holding, akan ke sana. PTPN III sebagai anchor menjadi acting mencari pendanaan bagi anak perusahaan, sehingga target kami anak perusahaan itu hanya memproduksi quantity yang banyak, quality, dan harga pokok yang serendah-rendahnya.

Jadi, mereka (anak perusahaan) tidak pusing memikirkan pendanaan lagi. Kami juga nanti akan menerapkan pool of funds atau seluruh transaksi anak perusahaan dari hasil penjualannya dikelola oleh holding company melalui kerja sama dengan trustee bank yang kemudian mengatur pendanaan anak perusahaan sesuai budgeting-nya.

Ketiga, menerapkan e-budgeting, memperkuat bisnis downstream, juga akan melakukan penjualan ritel dengan merek nasional sendiri, melakukan regrouping rumah sakit, melakukan penjualan ekspor sebesar-besarnya, dan kami akan buat unit khusus trader.

Kunci sukses Anda?
Amalkan ilmu yang kita punya, lalu bangun jaringan (networking) seluas-luasnya, dan perbanyak doa, baik oleh diri sendiri, orangtua, maupun rekan-rekan sejawat. Yang tak kalah penting, jangan lupa dengan orang-orang yang menderita dan bekerjalah turun ke bawah. Bekerja turun ke bawah itu artinya kalau ada yang tidak bisa kita ajari, tetapi kalau tetap tidak bisa, ya kita tinggal.

Prinsip hidup Anda?
Sabar, itu kunci kehidupan. Kalau kita tidak sabar, begitu ada masalah dalam bisnis, bisa saja langsung frustrasi dan memilih bisnis lain atau sampai meninggalkan keluarga. Masalah itu biasa. Memang terkadang hidup itu ada di posisi bawah maka harus bersabar menghadapinya.

Gairah (passion), keinginan (desire), intension, dan cita-cita, agar bisa menjalani tantangan hidup dengan ringan. Bayangkan kita enggak punya semua itu, belum-belum sudah mengeluh. Diminta membenahi kinerja perusahaan, ah tidak bisa, utangnya gede, kesannya jadi susah diatur.

Bekerja harus all out. Dalam menjalankan amanat atau bekerja, selain harus dengan passion dan penuh tanggung jawab, kita juga harus all out. Tidak boleh setengah-setangah, semua apa yang kita bisa, kita curahkan agar hasilnya sesuai yang kita inginkan.

Jangan show off, artinya kita tidak perlu gaduh atau pamer. Jangan show off, mendingan low profile, tidak perlu pamer, biasa saja. Enggak dikenal banyak orang juga enggak apa-apa, yang penting performanya, enggak ketahuan orang juga enggak apa-apa. Toh, di atas kita masih ada yang lebih. Ibaratnya, kalau kita berdiri jangan tegak sekali, nanti nantang angin. Kalau biasa saja, terus ada angin, paling-paling bengkoknya hanya sedikit.

Gaya kepemimpinan Anda?
Holding Perkebunan Nusantara menaungi banyak perusahaan, sehingga menanganinya tentu berbeda dengan yang hanya satu perusahaan. Apalagi ada amanat dari Ibu Menteri (menteri BUMN) agar PTPN III Holding ini berkembang. Karena mengelola beberapa perusahaan dengan daya pikir yang berbeda-beda maka saya menyatukan dulu tujuan yang ingin didapatkan (goal getter).

Semua harus mengacu goal getter yang sudah dibuat. Tentunya, cara yang bisa ditempuh adalah dengan memberikan coaching ke para direktur utama PTPN, sehingga mereka mempunyai visi yang sama untuk dijalankan. Saya juga menerapkan reward and punishment, ada key performance index (KPI). Selain itu, saya transparan atau terbuka, menerapkan open management. Siapa pun bisa keluar-masuk seenaknya ke ruangan saya untuk sharing.

Apa obsesi atau mimpi Anda ke depan?
Kalau untuk karier, saya masih memiliki sejumlah obsesi. Untuk jangka pendek, saya ingin semua komoditas PTPN diekspor. Yang paling penting dan mudah-mudahan bisa terealisasi adalah PTPN menjadi global player di dunia komoditas. Kalau obsesi pribadi, saya masih punya cita-cita menjadi pengajar setelah pensiun. Saat ini, saya sedang belajar lagi Undip Semarang untuk meraih gelar doktor. Saya ambil jurusan keuangan. Kalaupun tidak mengajar, bisa saja nanti saya kembali lagi ke pasar uang atau menjadi konsultan keuangan, atau malah berbisnis.

Apa filosofi hidup Anda?
Bersama Kita Bisa. Ini menggambarkan sebuah kekompakan dan kebersamaan akan mampu mewujudkan target yang diinginkan. Menurut saya, ini kunci bagi kita untuk bisa menjalankan organisasi, perusahaan, bahkan keluarga dengan baik. Dalam sebuah perusahaan, misalnya, jajaran direksi itu harus kompak dan solid, tidak boleh ada keinginan masing-masing. Direktur utama enggak mau, direkur operasi enggak mau, tiga direksi lain mau, bisa tidak jalan aksi korporasi kita.

Dukungan keluarga untuk karier Anda?
Keluarga sangat mendukung karier saya. Saat berkarier di perbankan, misalnya, saya sering pindah-pindah perusahaan dan istri saya mendukung keputusan itu. Ketika saya bolak-balik resign, istri saya bilang, ya udah resign saja. Seperti sudah terbiasa karena istri saya percaya saya pasti bisa dengan networking saya. Hanya saja, istri saya selalu berpesan agar saya selalu berdoa kepada Sang Pencipta dan tidak lupa pada yang tak berpunya.

 



Sumber: Investor Daily
CLOSE