Ana Sopia

All Out di Setiap Kesempatan

All Out di Setiap Kesempatan
ANA SOPIA, COUNTRY MANAGER NETAPP INDONESIA (Sumber: Investor Daily/IST)
Happy Amanda Amalia / WBP Senin, 9 Juli 2018 | 11:24 WIB

Dunia teknologi informasi (TI), khususnya di Indonesia, umumnya didominasi kaum Adam. Namun, kini, tidak sedikit kaum hawa yang menggeluti dunia tersebut, bahkan memimpin perusahaan asing. Salah satunya Ana Sopia yang dipercaya menakhodai NetApp Indonesia.

Sebagai country manager perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Sunnyvale, California, Amerika Serikat (AS), perempuan kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, 31 Januari 1980 ini menghadapi banyak tantangan. Apalagi latar belakang pendidikannya bukan bidang human resources (HR).

“Karena background saya bukan HR atau masuknya bukan sebagai pemimpin, proses saya belajar benar-benar otodidak. Dalam arti, saya mendapat training, coaching, dan searching it directly. Bagi saya, sebagai manajer, ngurusin orang itu is a never ending responsibility. Setiap orang punya cara berpikir berbeda-beda. Hal-hal semacam itu sampai sekarang juga masih challenging,” ujar Ana Sopia kepada wartawati Investor Daily Happy Amanda Amalia di Jakarta, belum lama ini.

Sebelum menduduki posisi country manager, Ana memulai karier di NetApp Indonesia sebagai channel sales manager pada 2008. Selama lebih dari tujuh tahun, dia memainkan peran penting dalam menciptakan fondasi yang kuat terhadap pertumbuhan NetApp di Indonesia.

Bahkan, deretan prestasi yang dicapai dan kontribusi yang diberikan Ana membuatnya terpilih selama dua kali berturut-turut menjadi bagian dari NetApp Sales Club: NetApp Top Achiever. Agar tidak menyesal dalam mengemban tugasnya sebagai country manager, Ana Sopia bersama timnya selalu berupaya melakukan yang terbaik, total, dan habis-habisan.

“Filosi saya adalah be all out. Saya selalu bilang ke tim bahwa kita lebih baik all out dalam semua kesempatan. What ever result-nya, dapat atau tidak, kita tidak akan menyesal karena itu yang terbaik yang sudah dikeluarkan,” tutur Ana yang meraih gelar sarjana komputer dan Master of Business Administration (MBA) dari Universitas Bina Nusantara (Binus) dengan predikat cum laude.

Bagi Ana Sopia, jika bekerja secara total, semua pasti merasa puas. “Saat berhasil, itu menjadi kebanggaan tersendiri. Tapi saat kalah pun kita bisa belajar, dan jangan pernah menyesal,” kata eksekutif yang memiliki lebih dari tujuh tahun pengalaman di berbagai industri, mulai dari industri TI, properti, hingga manufaktur ini. Berikut petikan lengkapnya.

Berapa lama Anda bekerja di NetApp Indonesia?
Tepat pada 15 Mei 2008, saya sudah 10 tahun berada di NetApp. Tapi untuk jabatan country manager, saya baru mengembannya pada 2015. Saat ini, saya menjadi lead team untuk NetApp Indonesia.

Bagaimana awal mula Anda masuk NetApp?
Ha, ha, ha... Begini, saya masuk ke NetApp karena rekomendasi teman saya, Ahung. Saya dan Ahung ini teman kuliah. Setelah selesai kuliah, kami sama-sama sudah kerja. Kebetulan dia memang masuk NetApp duluan dan saat itu ada posisi untuk channel sales. Saya coba apply dan memasukkan lamaran, ternyata berlanjut nih.

Sebelumnya saya bekerja di perusahaan TI juga, setelah itu baru move to NetApp. Saya sebelumnya bekerja di PA, kemudian merangkap accounting, lalu mengambil kuliah S2, dan saya mencoba kerja apa saja yang membuat saya happy.

Saat itu saya masih ingin explore ini dan itu, mencoba apa saja. Jadi, saya tidak ingin terikat dengan pekerjaan yang office hour. Sampai terakhir diberitahu Ahung bahwa ada lagi posisi di NetApp. Dia cerita mengenai NetApp, akhirnya saya memutuskan untuk join dan ternyata cocok sampai sekarang.

Apa yang menarik dari NetApp?
Pastinya banyak. Saat pertama bekerja, yang kita kerjakan itu kan mesti sesuatu yang kita senangi. Jangan sampai saat bangun tidur kita berpikir, aduh kok sudah waktunya bekerja lagi? Jadi, yang saya kerjakan itu mesti sesuatu yang saya sukai. Itu alasan saya bekerja di NetApp.

Alasan lainnya, saya diberi a lot of freedom. Dalam arti, kami tetap punya tanggung jawab yang harus di-deliver dan untuk men-deliver-nya boleh berimprovisasi. Kami boleh saja mengerjakan hal-hal secara tidak berurutan dari A sampai Z, boleh memulai dari Z dulu atau M dulu.

Kemudian setiap hari kami bertemu dengan orang-orang yang berbeda, sehingga kadang-kadang tantangannya juga berbeda, dan secara tidak langsung kami belajar setiap hari. Setiap harinya kami terasah untuk mencari tahu cara menghadapi dan menyelesaikan masalah. Maka kami tidak pernah berhenti belajar karena tantangan selalu ada setiap hari. Intinya, saya senang terhadap apa yang saya kerjakan, tidak merasa terpaksa.

Reaksi Anda ketika ditunjuk menjadi country manager di Indonesia?
Sebenarnya saat itu saya tidak punya keyakinan akan seperti apa. Saya kan tidak langsung ditunjuk, tapi ada masa transisi sekitar tiga bulan. Selama tiga bulan itu ada penilaian apakah NetApp akan promote dari internal atau dari luar. Selama masa transisi itu, saya selalu berusaha untuk terus menunjukkan bahwa apa saja yang mau ditugaskan kepada saya, pasti ada sesuatu yang bisa saya deliver.

Bagi saya, tidak ada yang sifatnya 100 persen yakin dan pasti. Jadi, surprise setiap hari itu selalu ada. Saya juga bertanya-tanya, yakin nggak ya? Sanggup nggak ya? Saya punya kapasitas itu atau nggak? Karena posisi ini berbeda di mana saya harus terlibat untuk me-manage orang dan saya harus manage tim. Tapi setelah dijalani, nyatanya saya masih survive sampai sekarang.

Anda tipe pemimpin seperti apa?
Saya tidak tahu juga ya. Tapi yang pasti, saya pernah menjadi karyawan dan pernah memberikan laporan kepada bos. Jadi, pertama, apa yang menurut saya baik dan bagus, sudah pasti saya teruskan. Contohnya soal transparansi. Saya bilang bahwa kami seharusnya tidak punya hidden agenda, kami harus punya goal yang sama dan untuk mencapainya harus dibicarakan.

Yang kedua adalah memastikan bahwa temanteman bisa saling kerja sama as a team. Ini penting karena kalau kita tidak kerja sama as a team, goal itu akan susah dicapai. Kami harus bisa berkomunikasi yang baik. Sebab kalau tidak, bagaimana kami bisa mengerjakan, men-deliver activity, atau membuat planning.

Saya juga tipe yang menerima masukan karena saya kan tidak tahu semuanya. Misalnya antara marketing dan sales function harus menjadi satu kesatuan, mereka harus kerja bareng, saling komunikasi. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana kami bisa membangun trust.

Dengan adanya komunikasi yang baik, kemudian kami sudah kerja bersama cukup lama maka trust akan terbentuk. Trust bukan diberikan, melainkan dibangun dan ada komunikasi.

Tantangan Anda memimpin NetApp Indonesia?
Nah, karena saya backgroundnya bukan HR, atau masuknya bukan sebagai pemimpin, proses saya belajar itu benarbenar otodidak. Dalam arti, saya mendapat training, coaching, dan searching it directly. Mau tidak mau, itu membuat saya benar-benar belajar learning by doing, supaya setiap hari semakin baik. Fase belajar saya itu ada di awal-awal.

Saat naik menjadi manajer, fase belajarnya banyak sekali. Bagi saya, sebagai seorang manajer, ngurusin orang itu is a never ending responsibility. Misalnya sekarang kami sedang ngobrol berlima, terus saya bicara satu dua kalimat, bisa saja diartikan enam sampai tujuh opini. Ini karena masing-masing orang cara berpikirnya beda-beda. Hal-hal semacam itu sampai sekarang juga masih challenging.

Cara Anda menyelaraskan visi-misi NetApp dengan perkembangan di Indonesia?
Kalau visi-misi NetApp Indonesia sudah pasti sejalan dengan apa yang menjadi visi-misi NetApp yang ada di korporat. Tahun ini kami punya tiga pilar besar. Pertama, core business kami yang based ONTAP (operating system) untuk membantu pelanggan memiliki kendali penuh terhadap data, apa pun platformnya.

Kemudian ada yang namanya Next Generation Data Centre di mana di dalamnya ada nama produk-produk dan solusisolusinya. Kemudian yang ketiga adalah related to cloud, yakni tentang inti pengelolaan data.

Ini supaya customer punya kontrol beyond the data, bagaimana mereka bisa memanfaatkan data-data itu, bagaimana data-data itu digunakan untuk mengambil keputusan, yang mana semua itu sebenarnya satu kesatuan. Intinya, visi-misi yang ditetapkan NetApp sudah sangat relevan dengan perkembangan TI saat ini, terutama di cloud.

Dukungan pemerintah bagaimana?
Pemerintah sendiri punya BUMN yang membidangi telekomunikasi. Kalau ditanya apakah pemerintah aware dengan perkembaga cloud? Mereka aware, makanya ada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Trasaksi Elektronik, di mana data center-nya harus ada di Indonesia. PP itu mungkin akan terus diperbarui mengikuti perkembangan pasar.

Dari sisi infrastruktur?
Harusnya sudah lebih mendukung dan sudah jauh lebih baik. Kita lihat saja keberadaan handphone, dulu lebih murah mana antara telepon dengan paket data? Dulu, operator mendapat revenue dari kita menelepon. Sekarang, karena setiap hari kita menggunakan smartphone dan menyimpan semua di dalamnya, maka saat ini jauh lebih penting menggunakan data daripada telepon.

Dulu kita bisa hidup tanpa internet, sekarang tidak bisa karena semua butuh. Maka Kemkominfo mengggalakkan internet gratis ke desa-desa, WiFi dan segala macam. Sekarang yang penting bukan hanya infrastrukturnya, tetapi bagaimana infrastruktur itu dimanfaatkan dengan baik, tidak disalahgunakan. Itu mungkin yang menjadi pekerjaan rumah (PR) semua orang.

Tapi, sejauh ini sudah baik, kok, pemerintah juga membangun, begitu pula swasta, berlombalomba memberikan servis kepada pelanggan. Saya melihat dunia digital ke depan sudah sangat dekat dan kita sudah terlalu nyaman dengan segala sesuatu yang ada di handphone, mobile apps- nya. Yang pasti sih semua services akan mengarah ke sana.

Apa obsesi pribadi Anda?
Dalam professional life, terkadang pekerjaan tidak ada habisnya, apakah kita mau mengejar karier yang lebih tinggi atau pindah ke perusahaan yang lebih baik. Tapi kalau personal life, saya punya keinginan untuk terlibat di society, cuma bentuknya belum tahu, belum bertemu organisasi yang tepat. Saya berkeinginan masuk organisasi yang utamanya berkaitan dengan anak-anak atau aktif di kegiatan gereja, sebagai bentuk aktualisasi diri di luar pekerjaan.

Cara Anda bangkit dari kegagalan?
Dengan motivasi. Sebagai manusia, sangat wajar kalau merasa capek, bahkan terkadang sampai terbawa ke pikiran dan terbawa mimpi. Kalau sudah begitu, sebaiknya cuti dua hari atau dua sampai tiga jam tidak perlu menyentuh laptop atau melihat email. Atau libur seminggu sampai dua minggu.

Ketika kembali bekerja, pasti fresh. Memotivasi diri sendiri itu penting. No matter how small or simple the motivation it’s really matter, itu penting banget punya self motivation. Kalau tidak punya motivasi dari diri sendiri, kita tidak akan bisa ngapa-ngapain dan juga tidak akan punya self driven, jadinya malesmalesan.

Filosofi hidup Anda?
Satu hal yang saya pelajari, saya tidak suka menyesal karena rasanya tidak enak. Misalnya saya harusnya bisa mendapat ini, lho. Tapi karena saya tidak mengerjakan dengan baik, akhirnya saya tidak dapat. Itu namanya menyesal. Jadi, loso saya adalah be all out. Saya selalu bilang ke tim bahwa kami lebih baik all out dalam semua kesempatan.

Kami duduk bersama membicarakan strateginya, kompetisinya, customer prole-nya seperti apa. Semua kami bicarakan dan temukan jalannya. Saat facing, kami benar-benar keluarkan apa yang kami punya. What ever result-nya, dapat atau tidak, kami tidak akan menyesal karena itu yang terbaik yang sudah dikeluarkan. Saat memperoleh keberhasilan, itu adalah kebanggaan tersendiri. Tapi saat kalah atau gagal pun kita belajar, dan jangan pernah menyesal

Bagaimana Anda memandang hidup ini?
Manusia perlu satu hal, harus bersyukur. Terlepas dari agama apa pun, segala macam background kita. Bagi saya, kalau kita selalu bersyukur, sekecil apa pun hidup kita akan jauh lebih ringan. Kepada suami, saya selalu bilang we had to be grateful saja setiap hari. Setiap hari ya kita bersyukur saja dengan apa yang kita jalani. Mau senang atau tidak senang, ya kita bersyukur saja dulu.

Jangan sampai setiap hari sibuk kerja, cari uang buat keluarga. Padahal belum tentu itu yang diinginkan keluarga kita. Dengan bersyukur, langkah kita dalam menjalani hari pasti enak, deh.



Sumber: Investor Daily