Airlangga Hartarto

Bagi Golkar yang Penting Jokowi Menang

Nurlis E Meuko / Adi Prasetya / NEF Jumat, 11 Mei 2018 | 14:28 WIB

Tokoh ini bukan tipikal yang meledak-ledak. Bertutur santun dan tenang, ia sangat fokus pada pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Saat ini ia menjabat sebagai menteri perindustrian, selain itu ia juga adalah ketua umum Partai Golkar. Dialah Airlangga Hartarto.

Dua jabatan penting yang diembannya itu membuat ia sangat sibuk. Kendati demikian, Airlangga Hartarto, tetap bersedia menerima dua wartawan BeritaSatu.com, Nurlis E Meuko dan Adi Prasetya, di ruang kerja Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu pekan lalu, untuk wawancara khusus.

Berikut wawancaranya:

Bagaimana membagi waktu antara posisi Anda sebagai menteri dan ketua partai?
Sebetulnya pekerjaan itu memiliki definisi yang jelas, yang namanya industri itu ada barangnya memikirkan produk, out put dari industri itu kan barang, tentu kaitannya juga dengan kegiatan-kegiatan produktif.

Sedangkan Golkar kan bicara manusia, human resources, dan kompetensi. Jadi dengan definisi yang jelas maka pembagian waktunya juga bisa dilaksanakan dengan baik.

Bukankah industri juga menyangkut manusia?
Karakternya berbeda. Industri itu berkaitan dengan produktivitas, sedangkan Golkar menyangkut kompetensi politik.

Mana lebih penting, antara jabatan menteri dan mimimpin partai politik?
Sama-sama penting. Partai politik itu tiangnya demokrasi. Fungsi partai politik adalah mengintegrasikan kesatuan negara Republik Indonesia dan menjadi kanalisasi opini, menyerap opini masyarakat, tentu menyalurkannya melalui lembaga parlemen, atau melalui pemerintah, yaitu kebijakan publik.

Apakah ada ukuran keberhasilan di kementerian yang memengaruhi Partai Golkar?
Tentunya yang dilihat adalah keberhasilan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, sebab yang mendapat mandat dari rakyat kan Pak Jokowi.

Nah, menteri-menteri ini diberi mandat oleh presiden. Jadi yang ada adalah keberhasilan presiden dalam pemerintahan. Karena itu, kita sebagai pembantunya harus men-support kebijakan Pak Presiden.

Pada 27 Juli 2016, Presiden Jokowi menunjuk Airlangga sebagai menteri perindustrian menggantikan Saleh Husin saat melakukan perombakan Kabinet Kerja.

Perindustrian adalah dunia yang sangat akrab dengan Airlangga. Ia sangat berpengalaman. Di antaranya, ia pernah menjadi ketua Asosiasi Emiten Indonesia periode 2011-2014. Airlangga juga adalah ketua Komisi VII DPR (2006-2009) membidangi energi, lingkungan hidup, dan ristek dari Fraksi Partai Golkar.

Selain itu, Airlangga juga adalah putra pasangan Hartarto Sastrosoenarto–R Hartini Soekardi. Ayahnya, Hartarto, adalah menteri perindustrian pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan menteri koordinator bidang produksi dan distribusi (menko prodis) pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998).

Jabatan menteri perindustrian itu seperti mengalir dari darah ayahnya. Tak heran ia sangat menguasai bidang ini. Karena itu pula, Airlangga menjelaskan segala sesuatu dengan bahasa yang sederhana dan gampang dicerna.

Bagaimana melihat keberhasilan itu dari sisi kementerian perindustrian?
Pertama yang dilihat adalah pembinaan sumber daya manusia, terutama yang bisa terampil untuk menjadi bagian dari peningkatan produktivitas di industri. Nah itu yang kami lakukan dalam program link and match, yaitu industri dengan pendidikan vokasi, di situ juga ada program untuk mendorong entrepreneuership. Tetapi itu baru terjadi jika ada keterampilan. Orang tidak terampil, tidak mungkin jadi entrepreneuer.

Jadi apa yang paling utama Anda lakukan?
Kementerian Perindustrian melatih keterampilan lebih dulu, lalu mendorong inovasi. Nah, inovasi akan terjadi kalau sumber daya manusia diberi kesempatan membuka dunia baru di dunia industri. Dari sini akan membuka cakrawala dan entrepreneuership.

Kemudian yang didorong adalah pendidikan yang sifatnya adalah politeknik. Orientasinya lapangan pekerjaan dan spesialisasi. Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Pemerintah Swiss mengembalikan apa yang dahulu pernah dikerjasamakan di ITB.

Dan, National Hotel Institute (NHI) di Bandung itu kan legenda sekolah politeknik yang world class. Ini kita hidupkan lagi. Setidaknya akan ada empat politeknik nantinya, tiga manufaktur dan satu terkait dengan perhotelan. Ini kerja sama lintas kementrian.

Kita pilih Swiss sebab memang nomor satu di dunia di bidang politeknik. Salah satu kunci daya tahan industri di Swiss dan Jerman adalah kekuatan pada sistem vokasinya.

Apakah itu artinya memengaruhi program studi di sekolah-sekolah?
Iya itu sesuai dengan perkembangan zaman. Kita mengubah 35 program studi di SMK. Perguruan tinggi melalui politeknik, perubahan yang tercepat itu memang melalui politeknik, sedangkan perubahan di universitas itu melalui Revolusi Industri ke-4, jadi masing-masing kita sentuh.

Berkaitan dengan Revolusi Industri ke-4, apa yang menjadi fokus pemerintah?
Menyiapkan seluruh stakeholder ekonomi untuk masuk ke digitalisasi. Sama seperti era 1990-an, di mana waktu masuk era globalisasi. Sesudah globallisasi masuk digitalisasi.

Era globalisasi ditandai dengan free trade agreement. Sebelumnya era globalisasi kan industri bisa menggunakan tariff barrier. Industri domestik diberikan perlindungan tarif. Sekarang sudah tidak bisa lagi.

Kekhawatiran era 1990-an dan era sekarang itu sama. Pada 1990-an, dikhawatirkan jika terjadi era globalisasi, maka Indonesia tidak bisa bersaing dan semua tenaga kerja akan berhenti bekerja, sekarang sudah 2018 ternyata tidak sepenuhnya terjadi.

Kini kekhawatirannya bertambah dengan yang namanya digitalisasi. Jadi oleh karena itu perlu kita lakukan re-edukasi dan juga inovasi. Karena inovasi itu berjalan dengan cepat, ini bagian terpenting dari Revolusi Industri ke-4.

Bukankah inovasi itu bukan hal baru?
Benar. Inovasi bukan barang baru, di setiap era ada inovasinya. Tetapi sekarang ini berjalan dengan begitu cepat. Maka, produk itu lebih cepat dihasilkan dibandingkan dengan regulasi.

Sedangkan fungsi pemerintah itu kan hadir dalam setiap perkembangan di antara the winner dan the losser, sehingga the winner itu tidak take it all. Di era digitalisasi ini new player bisa tiba-tiba menjadi pemain utama. Dia yang terdepan.

Apakah pemerintah memiliki road map untuk menghadapi Revolusi Industri ke-4?
Kementerian sudah melakukan penelitian dengan sejumlah lembaga yang kredibel. Kita sudah membuat roadmap. Kita men-tackle sumber daya manusianya, baik itu di privat, swasta, perguruan tinggi, dan birokrasi.

Kemudian sektor industrinya melalui pilot project melalui pemilihan sektor. Kita pilih 5 dari 84 sektor industri untuk menjadi yang terdepan. Jadi tidak semuanya di depan. Di antaranya elektronik, otomotif, makanan dan minuman, serta biokimia.

Pekerjaan yang sudah kita lakukan adalah link and macth ketrampilan. Masuk ke pendidikan tinggi melului vokasi, lalu ke perguruan tinggi melalui Revolusi Industri ke-4, sehingga seluruh struktur itu kita sentuh, sambil mempersiapkan diri masuk ke digitalisasi.

Menteri harus melihat sesuatu dari sudut pandang outside of the box, apa yang bisa cepat. Beliau salah satu presiden yang sangat menyukai otomotif, sehingga RI-1 itu kadang di truk, dan juga di motor yang customize

Kunci utama pada digitalisasi itu di sisi mananya?
Yang namanya digitalisasi kunci utamanya adalah market. Di ASEAN, kita menjadi market terbesar. Karena itu, start-up terbesar bisa munculnya di Indonesia, bukan di negara-negara yang penduduknya sedikit, karena domestik demand-nya di sini. Kebetulan kita memiliki penduduk terbanyak, dan juga kita memiliki perguruan tinggi terbanyak di ASEAN. Itu adalah fondasi dari inovasi. Tinggal pemerintah menyentuhnya, sehingga kita bisa leading di bidang inovasi.

Apakah sudah mengidentifikasi masalah yang ada di Indonesia?
Itu sudah juga. Makanya, sudah kita tentukan 10 prioritas. Untuk manufaktur tentu bahan bakunya, kemudian finansial teknologinya, SDM-nya, serta R&D (research and development).

Nah, 10 prioritas ini untuk menyelesaikan revitalisasi manufaktur. Kemudian kita mendorong supaya investasi dan ekspor itu menjadi hal yang utama. Karena kita mempunyai road map, kalau enggak ada investor, maka enggak jalan. Kita memiliki road map, tetapi tidak ada pembiyaan kompetitif, maka tidak jalan juga.

Kita punya inovasi, tetapi tapi kalau R&D tidak di-tackle, maka enggak selesai, tetapi kita bukan menyelesaikannya dengan anggaran pemerintah tetapi dengan insentif. Contohnya menteri keuangan sudah memberikan tax holiday. Itu salah satunya.

Revolusi Industri 4.0 ini dapat membunuh skill yang ketinggalan zaman, bagaimana antisipasinya?
Ya, kalau kita lihat industri kan menghasilkan barang. Revolusi Industri ke-4 yang ditanganinya adalah proses. Jadi, kalau namanya proses, tentu ujungnya adalah efisiensi.

Jadi misalnya, industri mobil dengan Revolusi Industri ke-4 produknya tetap mobil. Prosesnya lebih modern. Elektronik juga begitu. Makanan juga begitu, sehingga dengan efisiensi tentu diharapkan volumenya membesar. Jadi akan menambah employment. Jadi itu yang kita dorong.

Jadi tak ada yang perlu dirisaukan?
Iya tak perlu khawatir. Contohnya e-commerce, misalnya itu Grab, itu kan meng-employment driver dan segala macam, dan itu massal. Terus untuk operasionalnya sendiri itu membutuhkan employment lagi, membutuhkan call center dan lain-lain, sehingga ini meng-create job bukan membunuh job.

Bagaimana pengalaman Anda menjadi menteri Presiden Jokowi?
Ini penuh tantangan. Contohnya kalau bicara road map industri, ditantang Pak Presiden. Kami mempersiapkan road map yang beliau minta, beliau mengejar terus, dan kita juga kebut terus. Kita melakukan berbagai studi yang cukup komprehensif, dan membuat road map industri sampai 2030. Di samping itu presiden selalu men-trigger, test the limit terus, push over the limit.

Sosok para menteri seperti apa yang pas dengan Presiden Jokowi yang begitu aktif?
Kalau saya melihat, menteri harus melihat sesuatu dari sudut pandang outside of the box, apa yang bisa cepat. Beliau salah satu presiden yang sangat menyukai otomotif, sehingga RI-1 itu kadang di truk, dan juga di motor yang customize. Itu fashion beliau ada di sana. Kami melihatnya itu adalah fashion terhadap industri.

Beliau juga melihat industri adalah kontributor perekonomian, karena cukai 90 persen dari industri, pajak 60 persen dari industri, employment dan kesejahteraan juga kontribusi besar dari industri, makanya ketika beliau sendiri me-launching Indonesia for 4.0, ini adalah arahan Pak Presiden yang jauh ke depan. Jadi tak berhenti pada periode lima tahunan, tetapi ingin mengibarkan bahwa bangsa ini bukan sekadar bangsa, juga optimistis.

Kita ini bangsa besar, berada dalam 16 besar, maka kelakuannnya juga haruslah kelakuan bangsa yang besar. Nah itu yang bolak-balik Pak Presiden sampaikan bahwa sudah waktunya kita memohon bantuan terus, sudah waktunya kita memberi bantuan kepada negara-negara lain, beliau ingin kita negara besar ya kelakuannya juga negara besar.

***

Pengagum ajaran Mahatma Gandhi ini mengungkap tujuh hal yang harus dihindari, yaitu kaya tanpa bekerja, kesenangan tanpa kesadaran, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moral, ilmu tanpa kemanusiaan, penghargaan tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip.

Prinsip itulah yang memandu perjalanan hidupnya, termasuk dalam memimpim Partai Golkar sejak 2017.

Apa target Anda sebagai ketua umum Partai Golkar pada pemilu mendatang?
Kalau saya kan sekarang, pertama memegang amanah beliau sebagai menteri, yang kedua sebagai ketua umum Partai Golkar. Partai Golkar kan yang nomor satu mendukung Pak Jokowi. Partai Golkar adalah partai yang berpengalaman dan partai yang paling tua di republik ini.

Partai Golkar dalam doktrin dan ideologinya adalah bekerja, mengawal pembangunan. Jadi khitahnya Partai Golkar adalah mengawal pembangunan. Dan ini cocok dengan visinya Pak Jokowi. Saya sampaikan ke Pak Presiden, kalau Partai Golkar ini mengawal dari awal tentu kerja-kerja ke depan itu harapannya lebih punya banyak masukan, lebih kokoh dalam mengawal pemerintah ke depan.

Nama Anda masuk dalam bursa calon wakil presiden untuk mendampingi Presiden Jokowi, tanggapan Anda?
Tentu terhadap kepercayaan itu, kami berterima kasih. Namun, dari segi agenda politik kami akan membahasnya paska pilkada ini. Karena kita punya target-target untuk pilkada nanti untuk memperkokoh dukungan kepada pemerintah ke depan.

Terpilih atau tidaknya Anda sebagai calon wakil presiden nantinya, akan tetap bersama Jokowi?
Partai Golkar itu adalah yang paling pertama mendukung Pak Jokowi. Jadi, hal-hal yang lain akan kita bahas pada posisinya dan pada waktunya. 

Apa yang paling penting bagi Partai Golkar saat ini?
Bagi kami yang paling penting adalah Pak Jokowi menang. Yang kedua Golkar menguasai 110 kursi di parlemen, koalisi untuk pemerintah menjadi lebih baik. Membangun negara menjadi lebih tepat.

Tujuan bersama-sama itu adalah untuk kemenangan dalam pemilu legislatuf, dan inilah yang kami kelola. Jadi lebih mengutamakan kepentingan bersama.

Sebegai pemimpin Partai Golkar bagaimana mengerahkan kader untuk mendukung Jokowi?
Kita ada momentum pemilu legislatif, sehingga seluruh kader Golkar berkosentrasi pada pemilu legislatif. Artinya ini menjadi target utama Partai Golkar. Karena ini, pemilu pertama pilpres dan pemilu legislatf  berjalan berbarengan.

Terus sekarang dengan adanya pemilu legislatif menjadi lebih mudah menggerakkan program dan roda organisasi karena kita memiliki tujuan yang sama. Terutama menghadapi 2019, bagaimanapun peran parpol yang besar kan di parlemen, sedangkan di pemerintah hanya bagian dari kabinet presidensial. Tentu pengawalan dari Partai Golkar itu melalui lembaga DPR. Partai Golkar menguasai 110 kursi di parlemen.

Berikutnya adalah dengan adanya kemenangan pilkada-pilkada ini. Pemilu yang lalu kita kan sudah memiliki modal 56 persen. Salah satu partai politik yang kemenangan paling tinggi, nah jika pada pemilu kali ini kita mampu menjaga elektabilitas seperti itu, maka dukungan untuk Pak Presiden akan konkret. Minimal kita memiliki basis suara 14,5 persen.

Nah 14,5 persen, periode yang lalu tidak bersama Pak Jokowi. Periode ini bersama Pak Jokowi kan kontribusi yang siginifikan.

Tentu itu bukan mudah, sebab di Golkar ada sejumlah persoalan, misalnya kader yang terjerat korupsi…
Alhamdulillah situasi sekarang lebih kondusif, kita bisa melihat dalam kerja-kerja politik yang dilakukan Partai Golkar. Apakah itu dalam pemilihan gubernur Bank Indonesia, BPK, KPPU, dan banyak agenda politik yang diselesaikan secara aklamasi, tidak ingar binger. Ini damai.

Kita juga menempatkan ketua DPR yang mendapat apresiasi publik. Jadi kan ini dari positioning tokoh-tokoh yang didudukkan Partai Golkar itu kan membawa pemerintah dan parlemen berjalan seiring.

Bagaimana Anda menyelesaikan “huru-hara” di tubuh Golkar di masa-masa awal mempimpin?
Saya menjaga hubungan dengan seluruh komponen yang ada di Partai Golkar. Saya juga sudah lama berada di partai, minimal mekanisme yang ada di Partai Golkar yang harus saya lakukan. itulah yang saya lakukan, yang paling penting adalah ada hal yang bisa kita kerjakan bersama-sama.

Tujuan bersama-sama itu adalah untuk kemenangan dalam pemilu legislatif, dan inilah yang kami kelola. Jadi lebih mengutamakan kepentingan bersama.

***

Airlangga menikah dengan Yanti K Isfandiary dan memiliki anak: Adanti, Ravindra, Audi,Dines, Bianda, Latascha, Maisara dan Natalie. Ditengah-tengah kesibukannya, Airlangga adalah seorang ayah yang juga harus membagi waktu untuk keluarganya.

Posisi Anda sebagai “milik” publik, bagaimana bisa mengurus keluarga?
Kita menyediakan waktu-waktu yang khusus untuk keluarga. Saya memiliki kedekatan sama anak-anak jadi memiliki mekanisme untuk memperhatikan.

Bagaimana dengan anak-anak, apakah mereka merasa kehilangan dengan waktu yang padat?
Kalau yang sudah besar-besar, mereka memakluminya. Nah, yang kecil-kecil ini, mereka meminta perhatian yang lebih. Ya saya tetap memberikannya. Karena di situlah insentifnya.

***

Nama lengkap : Airlangga Hartarto
Profesi            : Politikus

Tempat / Tgl Lahir : Surabaya, 1 Oktober 1962
Karya / Prestasi : ASEAN Engineering Honorary fellow, conferred by ASEAN Federation of Engineering Organization at Myanmar (2004)
Australian Alumni Award for Entrepreneurship (2009)
Satya Lencana Wira Karya (2014)

KELUARGA

Istri : Yanti K Isfandiary
Anak : Adanti, Audi, Bianda, Ravindra, Dines, Latasha, dan Mesar

PENDIDIKAN

  • SMA Kolese Kanisius Jakarta (1983)
  • Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1987)
  • AMP Wharton School University of Pennsylvania, Philadelphia, USA (1993)
  • Master of Business Administration (MBA), Monash University Australia (1996)
  • Master of Management Technology (MMT), Melbourne Business School University of Melbourne Australia (1997)

KARIER

  • Pemilik PT. Graha Curah Niaga
  • Presiden Komisaris dari PT. Fajar Surya Wisesa Tbk (1989)
  • Presiden Direktur PT. Jakarta Prime Crane (1991)
  • Presiden Komisaris PT Ciptadana Sekuritas (1994)
  • Presiden Direktur PT. Bisma Narendra (1994)
  • Ketua Kompartemen Agro Industri Kadin (1999 - 2004)
  • Ketua Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) (2001 - 2005)
  • Anggota Majelis Wali Amanah UGM (2002-2012)
  • Bendahara Balitbang Golkar (2003)
  • Anggota Pokja OKK DPP Partai Golkar (2003)
  • Ketua Umum BM Kosgoro 1957 (2004 - 2000)
  • Komisaris PT. Sorini Corporation Tbk. (2004)
  • Sekjen ASEAN Federations of Engineering Organizations (AFEO)
  • Pemimpin Umum Harian Suara Karya
  • Wakil Bendahara dalam Pengurus DPP Partai Golkar (2004-2009)
  • Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) 3 periode (2005–2014)
  • Ketua, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) (2006-2009)
  • Anggota DPR-RI 3 periode (2004-2019)
  • Ketua Dewan Insinyur PII (2009-2012)
  • Ketua Usaha Kecil dan Menengah Koperasi DPP Partai Golkar (2011 - 2014)
  • Menteri Perindustrian RI (2016-Sekarang)
  • Ketua Umum Partai Golkar (2017-sekarang)



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE