Wakil Presiden RI 2009-2014

Boediono: Mengapa kok Saya?

Nurlis E Meuko / NEF Jumat, 20 April 2018 | 11:05 WIB

Terletak dekat kantor Kelurahan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, rumah warna krem ini berpagar rendah dengan gerbang yang terbuka. Diapit rumah-rumah bertembok tinggi, mata bebas melihat ke halaman yang ada pohon besar yang rindang memayungi taman mungil.

Walau di kawasan paling elite di Jakarta, di garasinya hanya ada sedan Toyota Crown tua berwarna hitam tahun 2004. Itulah kediaman Prof Dr Boediono, wakil presiden RI periode 2009-2014. Rumah itu pun adalah pemberian negara dalam kapasitasnya itu.

Masuk ke dalam, tak ada perabot maupun barang antik. Hanya ada sofa tempat duduk tamu. Ruang tengahnya lapang, sebab isinya hanya meja rapat dan sejumlah kursi. Di sudut kanan ruangan ini ada kursi tamu, di sinilah Boedinono berbincang-bincang dengan wartawan BeritaSatu.com, Nurlis E Meuko, pada Rabu (18/4).

Istrinya, Herawati, menyuguhkan teh dan penganan ringan untuk teman wawancara selama sejam ini. Boediono menjawab setiap pertanyaan dengan ramah, dan bibirnya selalu tersenyum. Menjawab pertanyaan soal Bank Century yang tiba-tiba kini muncul lagi pun ia tanpa beban.

“Saya menerima apa pun yang terjadi pada diri saya dengan ikhlas. Sebab semuanya terpulang pada nurani kita, apakah yang kita lakukan itu sudah benar tanpa niat buruk,” katanya.

Berikut petikannya:

Setelah menyelesaikan masa bakti wakil presiden, sekarang kembali mengajar?
Sehari-hari saya beraktivitas yang sesuai dengan diri saya, saya punya kamar yang menjadi ruang kerja, banyak waktu saya isi dengan membaca buku. Banyak sekali buku yang saya beli, mulai saya baca-baca lagi, juga menulis, dan memberi ceramah umum. Pada dies natalis UI, saya memberi ceramah reformasi birokrasi.

Habit Anda adalah seorang guru?
Ya, sekarang saya benar-benar bisa kembali ke habitat saya ke akademik. Saya juga bisa berdiskusi dengan masyarakat, dan teman-teman, bisa bertukar pikiran.

Anda adalah wakil presiden non-partisan, lalu kembali ke masyarakat tanpa terlibat politik…
Memang benar, saya dahulu tak pernah mimpi menjadi wakil presiden. Itu posisi politik yang sangat tinggi, benar-benar enggak pernah terpikir. Saya enggak punya duit, enggak punya partai.

Saya dahulu tak pernah mimpi menjadi wakil presiden. Itu posisi politik yang sangat tinggi, benar-benar enggak pernah terpikir. Saya enggak punya duit, enggak punya partai.

Mengapa kok saya, saya deg-degan juga. Posisi menteri itu lain lho (Boediono beberapa kali menjadi menteri), privilese wakil presiden itu lebih luas lagi. Tetapi inilah tugas, ya saya jalankan sampai selesai.

Setelah selesai, ya no problem. Saya tidak punya partai, ya sudah kembali ke masyarakat.

Bagaimana Anda menjalani kehidupan tanpa beban?
Apakah Anda menjabat atau tidak, kepercayaan masyarakat itu sangat penting. Apakah Anda berada dalam jabatan cukup penting bagi suatu bangsa, apakah presiden atau wakil presiden, itu menurut saya memang perlu penting sekali kepercayaan masyarakat sebab di situlah berada sukses atau tidaknya suatu kebijakan yang kita ambil.

Bahkan setelah itu, di situlah kita bisa mendekati masyarakat lagi, sehingga kita menjadi bagian dari masyarakat lagi untuk hidup menjadi bagian dari komunitas bangsa ini. Jadi memang, harusnya begitu. Akhirnya begitu.

Kembali ke masyarakat, apakah itu menjadi tantangan tersendiri?
Kalau bagi saya, ya tidak. Saya kembali saja ke masyarakat seperti biasa. Tetapi barangkali bagi beberapa orang yang mengalami masalah. Biasanya selalu dilayani semuanya serbaada dan kemudian tiba-tiba menjadi anggota masyarakat biasa. Ada yang mengalami post power syndrome namanya.

Tetapi alhamdulillah saya tidak begitu. Bagi saya jabatan itu kan sementara ya. Jangan sampai merasuk menjadi karakter saya agar menjadi pejabat terus. Itu kan tidak mungkin. Pasti suatu saat kita kembali lagi sebagai warga biasa yang biasa-biasa saja.

Tiba-tiba sekarang muncul soal Bank Century, apakah mengganggu Anda?
Saya pikir sangat manusiawi ya. Pasti manusia memiliki keterbatasan. Saya hadapi saja apa pun yang akan terjadi nantinya.

Tetapi lebih dari pada itu, maka yang paling penting adalah bagaimana kita menata diri kita menata hati kita. Kita bertanya pada nurani kita, apakah yang sudah kita lakukan itu sudah jernih, sudahkah kita melakukannya tanpa ada macam-macam keanehan-keanehan dan niat yang buruk?

Semua hal yang kita lakukan, maka kebenaran itu berada di hati kecil kita. Maka itu, saya menerima semuanya, menjalani semuanya, dan menyerahkan sepenuhnya pada yang maha kuasa.

Akhirnya semuanya akan ke sana.

Boediono menjelaskan secara lengkap soal Bank Century dalam tautan video ini:

Menjalani hari-hari dengan senyum, bisakah disebut Anda sudah berbuat yang terbaik untuk bangsa ini?
Tidak yang terbaik, bahkan mungkin saya belum berbuat sesuatu yang terbaik, tetapi saya telah berusaha untuk itu.

Waktu saya selesai sekolah di luar negeri, saya hanya ingin menjadi dosen. Panggilan hati saya itu. Senang untuk ketemu anak-anak muda dan mengajarkan sesuatu yang saya miliki, maka saya kembali ke Gadjah Mada (Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). Walau gajinya kecil, tidak apa-apa saya senang.

Kemudian saya disekolahkan lagi ke Amerika Serikat, kembali lagi tiba-tiba ada pejabat tinggi yang menarik saya ke Bappenas (JB Sumarlin). Saya ambil, waktu itu saya ingin melihat ilmu ekonomi itu dipraktikkan seperti apa sih?

Karena Bappenas waktu itu terkenal sebagai tempat pengambil kebijakan, saya pikir empat tahun di sini, lalu saya kembali lagi mengajar. Tetapi ternyata berlanjut, terperangkap sampai kemudian menjadi wakil presiden.

Filosofi Jawa banyak yang terkait dengan perilaku pribadi, mengatur perilaku kita masing-masing, dengan harapan akan menjadi perilaku kolektif yang kita inginkan.

Begitu lama menjadi pejabat penting, apakah ada kiat khusus ketika kembali ke masyarakat?
Tidak juga ya. Saya selalu ingat saja bahwa jabatan ini hanya sementara. Saya akan kembali jadi warga biasa. Istri saya juga begitu, kami saling berpesan. Jadi walau menjadi seorang pejabat pun harus tetap menjaga kenormalan seorang manusia.

Apa yang paling Anda nikmati sekarang ini?
Saya sering mendengarkan musik. Dahulu saya memang pernah mencoba menjadi musikus, tetapi gagal. Saya biasanya mendengarkan musik-musik zaman dulu, seperti Elvis Presley, Koes Ploes, musik keroncong, dan musik klasik. Favorit saya adalah wayang kulit. Setiap saya pulang ke Yogya, saya mendengarkan radio yang memutar wayang kulit. Di Jakarta kan enggak ada.

Wayang kulit memang sudah merasuk ke diri saya. Sejak kecil saya nonton wayang. Waktu saya kecil, di kota saya di Blitar, bioskop hanya satu. Maka saya yang enggak punya duit buat nonton, maka wayang kulitlah yang saya nikmati. Karena sering menontonnya, maka budaya itu menjadi melekat pada diri saya.

Apakah fiosofi wayang bisa diterapkan di zaman sekarang ini?
Filosofi Jawa banyak yang terkait dengan perilaku pribadi, mengatur perilaku kita masing-masing, dengan harapan akan menjadi perilaku kolektif yang kita inginkan.

Memang terasa kuno ya, tetapi kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Kadang kala kearifan lama itu diterapkan di zaman modern masih relevan. Saya kira suku-suku lain juga memiliki kearifan-kearifan.

***

Wakil Presiden non-Partisan

The man to get the job done, begitulah julukan untuk Prof Dr Boediono. Sebelum menjadi wakil presiden RI untuk periode 2009-2014, sejumlah jabatan penting juga pernah dipercayakan padanya: mulai dari gubernur Bank Indonesia hingga menteri keuangan.

Ketika menjabat sebagai menteri keuangan pada 2001 dalam Kabinet Gotong Royong, Boediono membuat Indonesia terlepas dari bantuan Dana Moneter Internasional dan mengakhiri kerja sama dengan lembaga tersebut. BusinessWeek menyebutnya sebagai menteri yang paling berprestasi dalam kabinet tersebut.

Ia bersama Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti berhasil menguatkan stabilitas makroekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari Krisis Moneter 1998. Ia juga berhasil menstabilkan kurs rupiah pada angka kisaran Rp 9.000 per dolar AS di masa itu.

Ketika terpilih menjadi wakil presiden, maka Boediono menjadi wakil presiden pertama yang berlatar belakang ekonomi, dan non-partisan setelah Mohammad Hatta (wakil presiden pertama RI).

Profil singkat:

Nama: Prof Dr H Boediono MEc
Tanggal lahir: Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943
Pekerjaan: Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Jabatan lain

  1. Executive Board for Asia - Wharton Advisory Boards, The Wharton School of the University of Pennsylvania
  2. Commissioner of Commission on Growth and Development

Pengalaman

  1. Wakil Presiden RI (2009-2014)
  2. Gubernur Bank Indonesia
  3. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
  4. Menteri Keuangan
  5. Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
  6. Direktur Bank Indonesia (sekarang setara Deputi Gubernur).

Pendidikan

  1. SD Muhammadiyah di Blitar
  2. SMP Negeri 1 Blitar
  3. SMA Negeri 1 Blitar
  4. Sarjana Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  5. Bachelor of Economics (Hons) Universitas Western Australia
  6. Master of Economics Universitas Monash
  7. PhD bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania

Video wawancara lengkap dengan Boediono klik tautan video paling atas.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE