Boris Johnson Ingin Gantikan Theresa May sebagai PM Inggris

Boris Johnson Ingin Gantikan Theresa May sebagai PM Inggris
Boris Johnson, mantan wali kota London yang menjadi pelopor gerakan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). ( Foto: Getty Images via NY Times )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Sabtu, 18 Mei 2019 | 18:37 WIB

London, Beritasatu.com- Setelah perundingan Brexit lintas partai gagal mencapai titik temu, Boris Johnson, yang merupakan salah satu figur utama di Partai Konservatif, menyatakan kesiapannya untuk menggantikan posisi Perdana Menteri (PM) Theresa May saat pemimpin itu mundur.

Hampir tiga tahun setelah Inggris memilih dalam referendum untuk meninggalkan Uni Eropa (UE) dengan suara 52%-48%, nasib negara itu masih belum jelas antara tetap bertahan atau meninggalkan klub Eropa sejak bergabung pada 1973.

Tenggat waktu terbaru Brexit adalah 31 Oktober 2019. Pembicaraan antara partai May, Konservatif, dan Partai Buruh bubar beberapa jam setelah May hari Kamis (16/5), setuju untuk menetapkan jadwal keberangkatan Brexit pada awal Juni.

“Tentu saya akan melakukannya (menggantikan May),” kata Johnson kepada BBC saat mengikuti konferensi bisnis di Manchester, Inggris, Kamis.

Kandidat pemimpin Partai Konservatif yang terpilih nantinya secara otomatis akan menjadi PM dan menjadi pusat dari proses kekacauan Brexit. Seorang tokoh senior dari Partai Konservatif, Graham Brady, mengatakan May telah setuju untuk penetapan jadwal pemilihan pemimpin baru.

May kembali meletakkan kesepakatan Brexit dalam kondisi rawan dengan mengajukan voting parlemen keempat kalinya. Kesepakatan Brexit May yang tidak populer itu telah tiga kali berturut-turut ditolak oleh parlemen.

Johnson, yang merupakan mantan wali kota London, telah lama memiliki ambisi kepemimpinan. Dia telah menjadi pengkritik atas pendekatan Brexit dari May, meskipun akhirnya mendukung saat voting ketiga Brexit. Johnson memang menjadi pilihan favorit di kalangan akar rumput anggota Konservatif, tetapi tetap menghadapi oposisi di masa lalu dari sejumlah besar anggota parlemen dari partainya.

Ubah Arah

Awalnya Johnson diharapkan untuk maju dalam persaingan pemimpin Partai Konservatif setelah referendum Brexit tahun 2016. Namun, dia secara dramatis mengubah arah setelah sekutunya yang pro-Brexit Michael Gove mengumumkan maju sebagai kandidat Konservatif.

May akhirnya memenangkan kontes itu dan menunjuk Johnson sebagai menteri luar negeri, tapi kemudian Johnson mundur pada Juli 2019. Dalam surat pengunduran dirinya, dia menulis Brexit “mimpi sedang sekarat, tercekik oleh keraguan diri yang tidak perlu”.

Johnson selanjutnya mendukung Inggris agar meninggalkan UE tanpa kesepakatan. Skenario itu dikecam para ekonom karena bisa berdampak parah bagi perekonomian Inggris.

Johnson sejak lama telah menjadi tokoh terkenal dalam perpolitikan Inggris selama lebih dari satu dekade. Dia menuai pujian dari beberapa pihak karena kepribadiannya yang santai dan kikuk, serta kritik dari pihak lainnya atas sejumlah kesalahan besar, kontroversi, dan komentar yang memecah belah ras.



Sumber: Suara Pembaruan