Bibit-Chandra Terancam Dibawa ke Pengadilan

Bibit-Chandra Terancam Dibawa ke Pengadilan
Jumat, 4 Juni 2010 | 08:25 WIB

Anggodo Widjojo kembali menang melawan Kejaksaan Agung setelah Pengadilan Negeri Jakarta memenangkan gugatannya terhadap penghentian perkara Bibit Slamet Riyanto-Chandra Hamzah yang dikeluarkan Kejaksaan Agung. Upaya banding Kejaksaan Agung atas putusan itu juga ditolak oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

“Keputusan ini merupakan keputusan yang inkracht (berkekuatan hukum tetap),” kata Juru Bicara Pengadilan Tinggi DKI, Andi Samsan Nganro kepada beritasatu.com.

Menurutnya keputusan pengadilan itu diputuskan Kamis siang (3/6) oleh Ketua Majelis Mochtar Ritonga, dengan anggota majelis I Putu Widnya dan Nazaruddin Tappo. Dengan keputusan tersebut, kata Andi, pengadilan mewajibkan kepada kejaksaan untuk melanjutkan penuntutan terhadap Bibit dan Chandra.

Juru Bicara KPK, Johan Budi mengharapkan pihak kejaksaan melakukan upaya hukum untuk mempertahankan Surat Keputusan Penghentian Perkara yang dikeluarkan untuk Bibit-Chandra. Sementara Juru Bicara Kejaksaan Agung, Didiek Darmanto mengaku belum menerima putusan pengadilan tersebut.

Kejaksaan Agung mengeluarkan Surat Keputusan Penghentian Perkara terhadap Bibit dan Chandra 1 Desember 2009, menyusul tekanan publik terhadap penahanan keduanya oleh Polri. Bibit dan Chandra ditahan oleh Mabes Polri karena diduga menyalahgunakan wewenang untuk pencekalan Djoko Tjandra dan Anggoro Widjojo.

Djoko adalah terpidana dua tahun dalam kasus hak tagih (cessie) Bank Bali dan menjadi buronan kejaksaan. Sementara Anggoro adalah kakak Anggodo dan Direktur Utama PT Masaro yang diduga menyuap beberapa pejabat KPK termasuk kepada Bibit dan Chandra sebesar Rp 3,7 miliar.

Polri mengaku memiliki bukti pengakuan tertulis Anggodo soal uang suap itu yang diberikan kepada Bibit-Candra diberikan oleh seorang mediator bernama Ary Muladi. Belakangan Ary mengaku tidak menyerahkan uang itu secara langsung kepada Bibit dan Chandra, melainkan lewat Yulianto.

Sekitar sebulan, setelah keluar surat penghentian perkara Bibit dan Chandra dari kejaksaan, giliran Anggodo yang ditahan oleh KPK (14/1). Dia diduga berupaya untuk menyuap sejumlah pimpinan KPK dan menghalang-halangi penyelidikan suatu kasus korupsi.

Pengusaha asal Surabaya itu lantas menggugat surat penghentian perkara untuk Bibit dan Chandra ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang kemudian dikabulkan oleh majelis hakim pertengahan 19 April silam. Kejaksaan Agung mengajukan banding, tapi pengadilan tinggi malah menguatkan keputusan pengadilan yang sebelumnya.

Andi menjelaskan, Anggodo memang berkepentingan mengajukan gugatan terhadap surat penghentian perkara Bibit-Chandra karena yang bersangkutan merupakan terdakwa kasus suap yang diduga melibatkan Bibit dan Chandra. Kejaksaan Agung, menurut Andi, seharusnya mengeluarkan deponering atau pengesampingan hukum dan bukan surat penghentian perkara, SKPP itu.

“Ini kemenangan hukum di negeri ini. Kita sangat berharap pihak terkait segera menjalankan putusan tersebut karena sudah final,” kata Bonaran Situmeang, pengacara Anggodo.

Sumber: -