Investasi US$ 50 Miliar di Hilir, Pertamina Pemain Kelas Dunia

Investasi US$ 50 Miliar di Hilir, Pertamina Pemain Kelas Dunia
Kilang Minyak Cilacap ( Foto: Beritasatu / Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / HA Minggu, 19 Mei 2019 | 23:35 WIB

Makassar, Beritasatu.com - Dengan investasi US$ 50 miliar di hilir, membangun kilang BBM dan petrokimia, Pertamina akan menjadi perusahaan migas terbesar di Asia tahun 2026 di luar Jepang, Korsel, dan Tiongkok. Kapasitas kilang BBM akan meningkat dari 1 juta barel per hari (bph) menjadi 2 juta bph minyak mentah. Sedang BBM yang dihasilkan akan meningkat dari 680.000 bph menjadi 1,7 juta bph.

"Kenaikan tajam akan terjadi pada produk petrokimia yang meningkat 11 kali menjadi 6,6 juta ton per tahun," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignasius Tallulembang dalam wawancara khusus dengan Beritasatu.com di Hotel Aryadutta, Makassar, Jumat (17/5/2019). Pria yang biasa disapa dengan nama Lete itu berada di Makassar untuk meninjau kesiapan pasokan BBM dan LPG di Pertamina Marketing and Operation Region (MOR) VII menjelang Idul Fitri. MOR VII mencakup Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.

Industri hilir Pertamina yang menelan dana investasi US$ 50 miliar itu terdiri atas tiga bagian, yakni pertama, Refinery Development Master Plan (RDMP), yakni upgrading atau peningkatan kapasitas empat kilang BBM lama, yakni Kilang Balikpapan, Balongan, Cilacap, dan Dumai. Kedua, adalah Grass Root Refinery (GRR), yakni kilang baru yang akan dibangun di Tuban, Jawa Timur dan Bontang, Kalimantan Timur, masing-masing berkapasitas 300.000 bph.

Ketiga adalah pabrik petrokimia. Selain pabrik petrokimia yang terintegrasi dengan dua kilang BBM baru (GRR), ada pabrik petrokimia yang berdiri sendiri, yakni di Balongan. Dalam tujuh tahun ke depan, pembangunan akan dikebut dan ditargetkan beroperasi penuh pada tahun 2026.

Selain enam kilang BBM, kata Lete, Pertamina juga membangun Bio Refinery atau kilang bahan bakar dari sawit di Plaju. Teknologi sudah tersedia untuk mengolah CPO menjadi bahan bakar nabati.

Igansius Tallulembang

Igansius Tallulembang (Beritasatu/Primus Dorimulu)

"Pembangunan kilang BBM, petrokimia, dan bio refinery dalam tujuh tahun ke depan memberikan multiplier effect yang sangat besar bagi pembangunan Indonesia," ungkap Lete. Setidaknya, 200.000 tenaga kerja baru akan terserap. Usaha kecil, menengah, hingga besar akan terlibat. Pertamina akan memanfaatkan seoptimal mungkin produk dalam negeri.

Hemat Devisa
Kilang Pertamina saat ini, kata Lete, hanya mampu mengolah minyak mentah 1 juta bph dan menghasilkan produk BBM --yakni gasoline atau bensin, diesel, dan avtur-- sekitar 680.000 bph. Sedang kebutuhan saat ini sekitar 1,4 juta bph. Ada kekurangan 50% yang dipenuhi oleh impor. Ditambah dengan produksi petrokimia, devisa yang bisa dihemat sedikitnya US$ 13 miliar per tahun.

Pertamina juga meningkatkan kualitas produk. Produk yang akan dihasilkan adalah program ramah lingkungan yang kualitasnya setara dengan Euro 5. Dengan mengusung nama Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC), Kilang Cilacap, misalnya, menghasilkan BBM dengan kualitas Euro 4.

Kapasitas kilang BBM akan ditingkatkan dari 1 juta bph menjadi 2 juta bph.

Pertamina membangun dua kilang BBM baru di Tuban, Jawa Timur dan di Bontang, Kalimantan Timur. Dua kilang BBM, masing-masing, berkapasitas 300.000 bph akan terintegrasi dengan petrokimia. "Dengan demikian, nantinya Pertamina memiliki empat RDMP dan dua GRR," ujar Lete.

Kapasitas kilang BBM akan ditingkatkan dari 1 juta bph menjadi 2 juta bph. Pertamina juga akan meningkatkan kemampuan menghasilkan produk berkualitas atau produk yang mempunyai nilai jual lebih tinggi, dari sekitar 75% saat ini menjadi sekitar 90%.

Produk BBM akan ditingkatkan menjadi tiga kali lipat, dari 680.000 bph menjadi 1,7 juta bph gasoline, diesel dan avtur. "Yang meningkat paling signifikan adalah produk petrokomia yang bakal bertambah 11 kali lipat. Ini yang paling menarik," ungkap Lete.

Masuknya Pertamina ke industri petrokimia menandai sebuah era baru mengingat selama ini, perusahaan negara itu hanya menghasilkan minyak mentah, gas, dan BBM. Petrokimia adalah kebutuhan utama Indonesia yang saat ini sudah memasuki kehidupan modern dan sedang gencar membangun industri. Hampir semua barang kebutuhan rumah tangga, pendidikan, dan transportasi adalah produk petrokimia.

"Ada Chandra Asri, tapi kapasitasnya sangat kecil, sehingga Indonesia harus impor," jelas Lete.

Dengan menghasilkan sekitar 6,6 juta ton per tahun, produk petrokimia akan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian bangsa. Selain menghemat devisa, industri petrokimia memberikan multiplier effect yang tinggi bagi masyarakat sekitar. Transportasi, rumah, restoran, dan mal di kawasan sekitar kilang akan berkembang pesat

Lete mengakui, megaproyek senilai US$ 50 miliar yang tengah dibangun adalah yang terbesar sepanjang sejarah Pertamina. Ke depan, bisa jadi tak ada lagi proyek yang nilainya sebesar ini.

Untuk pendanaan, Pertamina menggunakan beberapa strategi. Ada yang berupa project financing. Pertamina meminjam dari lembaga keuangan. Ada juga penyertaan dengan komposisi 70% pinjaman dan 30% ekuitas. Untuk mendapatkan ekuitas, Pertamina mencari mitra atau partnership.

Selain itu, ada skema built, operate, and transfer (BOT). Setelah dibangun dan dioperasikan selama 30 tahun, proyek diserahkan ke pemerintah Indonesia. Strategi ini diterapkan dalam pembangunan kilang BBM di Bontang. Semua pendanaan megaproyek senilai Rp 197,6 triliun itu disediakan oleh mitra. Minyak mentah juga disediakan mitra, yakni perusahaan dari Oman, Overseas Oil and Gas LLC (OOG). Perusahaan ini mendapatkan porsi kepemilikan 90%, sedang Pertamina diberikan golden share 10%.

Produksi Kilang Bontang akan dipasarkan di Indonesia. Pertamina nantinya membeli produk BBM dari Kilang Balongan seperti premium, gasoline, dan avtur. Minyak mentah disediakan OOG, hasil kilang dijual di dalam negeri dan pembelian dengan rupiah.

Kilang BBM baru di Tuban dibangun bersama Rosneft dari Rusia dengan kepemilikan 55% Pertamina, 45% Rosneft. Megaproyek senilai Rp 199,2 triliun itu mulai konstruksi 2020 dan ditargetkan beroperasi 2024.

Semua pembangunan megaproyek Pertamina, kata Lete, mengoptimakan produk lokal atau memanfaatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

"Kami upayakan agar semaksimal mungkin bisa mencapai 80% local content," papar Lete.

Nomor Satu
Dengan Kilang BBM yang mengolah 2 juta bph minyak mentah dan menghasilkan 1,7 juta bph BBM, Indonesia akan menjadi nomor satu di Asia di luar Jepang, Korsel, dan Tiongkok. Kilang Pertamina akan mengalahkan Petronas Malaysia, PTT Thailand, bahkan Korea sekalipun, yakni SK Energy, salah satu perusahaan oil and gas terbesar di Korea.

Juga dengan menghasilkan 6,6 juta ton produk petrokimia setahun, demikian Lete, Pertamina menjadi nomor satu di regional. Untuk polietilena dan polipropilena, Indonesia akan menjadi nomor satu, terbaik dan terbesar kapasitasnya. Untuk aromatic paraxylene, Pertamina masih di peringkat ketiga.

"Pertamina hanya kalah dari SK Energy yang kapasitasnya sudah 3 juta ton per tahun," ujar Lete.

Simak penuturan Lete lebih jauh dalam video berikut:



Sumber: BeritaSatu.com