Implementasi IC-CEPA Tingkatkan Ekspor Kertas ke Cile Hingga 200%

Implementasi IC-CEPA Tingkatkan Ekspor Kertas ke Cile Hingga 200%
Ilustrasi pabrik kertas. ( Foto: Istimewa )
Ridho Syukro / FER Minggu, 19 Mei 2019 | 18:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Potensi perdagangan Indonesia dengan Cile setelah implementasi IC-CEPA diperkirakan akan meningkat signifikan. Pasalnya, Cile akan menjadi hub masuknya produk-produk Indonesia ke negara sekitarnya.

Salah satu komoditas Indonesia yang ekspornya berpotensi meningkat tajam adalah kertas. Ekspor kertas Indonesia ke Cile pada Januari-April 2019 naik 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, mengatakan, sampai akhir 2019 diperkirakan ekspor kertas dari Indonesia ke Chili naik sampai 200 persen. Berdasarkan data Kemdag, nilai perdagangan Indonesia-Cile tercatat sebesar US$ 274,1 juta pada 2018. Dari jumlah ini, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 43,87 juta.

Saat ini, Mendag sedang berkunjung ke Cile, didampingi Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Arlinda, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo serta Wakil Kepala Perwakilan RI untuk Cile, Amin M Wicaksono.

Dengan implementasi IC-CEPA, sebaliknya Indonesia juga menjadi hub masuknya produk-produk dari Cile ke ASEAN serta Australia dan Selandia Baru. Selain itu, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Regional Komprehensif (RCEP) yang ditargetkan selesai tahun ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Cile.

"Potensi pertumbuhan perdagangan Indonesia-Cile sangat besar. IC-CEPA tidak hanya akan meningkatkan ekspor Indonesia ke Cile saja, tetapi juga ekspor ke negara-negara lain di kawasan Amerika Latin," ujar Mendag dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Minggu (19/5).

Isu lain yang dibahas selama kunjungan adalah sertifikasi halal yang menjadi keharusan bagi produk makanan dan minuman agar bisa masuk ke Indonesia.

"Sertifikasi halal merupakan suatu keharusan, namun Pemerintah Indonesia akan membantu agar hal ini tidak menjadi suatu hambatan," kata Mendag.

Sementara, Direktur Pemasaran Charta Global, Anthony Atamimi, menyampaikan, dengan hilangnya bea masuk komoditas kertas sebesar 6 persen ke Cile, maka produk kertas Indonesia akan semakin kompetitif dan berpotensi meningkatkan ekspor produk tersebut hingga tiga kali lipat.

"Ekspor ke Cile diharapkan tidak menemui hambatan perdagangan. Biaya logistik yang dikeluarkan untuk mengekspor kertas ke Cile tidak jauh berbeda dengan ekspor ke Amerika Serikat, serta karakteristik pasar Amerika Latin sebagai negara berkembang, relatif lebih mudah dihadapi dalam melakukan penetrasi pasar," ujar Anthony.

Mendag juga menerima sejumlah pelaku usaha Cile. Salah satunya adalah Midesa. Midesa merupakan perusahaan asal Cile yang berinvestasi di Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai tahun ini dengan nilai sebesar US$ 3juta sampai US$ 4 juta.

Investasi akan dilakukan dengan mendirikan tempat pengolahan rumput laut untuk dijadikan tepung dan kemudian diekspor.

Dalam investasinya ini, Midesa memberdayakan para petani rumput laut lokal mulai dari budi daya rumput laut hingga pengolahan rumput laut menjadi tepung. Kerja sama dilakukan untuk pengolahan barang setengah jadi, bukan hanya barang mentah.

Mendag juga bertemu dengan Manajer Ekspor Colun Company, Sebastian Vargas. Colun merupakan perusahaan penghasil produk-produk berbahan dasar susu dari Cile. Dalam pertemuan tersebut, Mendag menyampaikan keinginannya untuk menjajaki peluang sumber alternatif impor susu, selain dari Eropa.

Masuknya Colun ke Indonesia, maka pasar produk-produk sejenis di Indonesia akan lebih kompetitif sehingga dapat meningkatkan kualitas produk dan menurunkan harga produk bagi konsumen.

Usai menyelesaikan rangkaian kegiatan misi dagang di Santiago, Mendag dijadwalkan menghadiri Pertemuan para Menteri yang bertanggung jawab di bidang perdagangan (Ministers Responsible for Trade/MRT) pada Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC MRT) 2019 di Vina del Mar, Cile.



Sumber: Investor Daily