2019, Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat

2019, Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat
Logo Bank Dunia. ( Foto: AFP )
/ WBP Rabu, 9 Januari 2019 | 09:33 WIB

Washington - Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat pada tahun 2019 menjadi 2,9 persen dari perkiraan sebelumnya 3,0 persen, akibat peningkatan risiko.

Dalam laporan Prospek Ekonomi Global yang baru dirilis, Bank Dunia mengatakan bahwa prospek ekonomi global telah menjadi suram karena kondisi pembiayaan global semakin ketat, ketegangan perdagangan meningkat, serta pasar keuangan beberapa emerging market dan negara berkembang besar mengalami tekanan signifikan.

"Menghadapi headwinds ini, pemulihan di negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang telah kehilangan momentum," kata laporan itu.

Bank Dunia memperkirakan negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang tumbuh sebesar 4,2 persen pada 2019, 0,5 persentase poin lebih rendah dari yang diproyeksikan sebelumnya pada Juni tahun lalu.

Pertumbuhan di negara-negara maju diperkirakan melambat menjadi 2,0 persen pada 2019 dari 2,2 persen pada 2018, karena bank sentral utama terus menarik kebijakan moneter akomodatifnya. "Terjadi risiko-risiko penurunan termasuk kemungkinan pergerakan pasar keuangan yang tidak teratur dan eskalasi sengketa perdagangan," kata laporan itu.

Laporan Bank Dunia itu juga memperingatkan bahwa peningkatan ketegangan perdagangan dapat mengakibatkan pertumbuhan global lebih lemah dan mengganggu rantai nilai yang saling terhubung secara global.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan melambat menjadi 6,2 persen pada 2019 dari 6,5 persen pada 2018, karena penyeimbangan kembali domestik dan eksternal berlanjut.

Laporan tersebut menyatakan bahwa prioritas paling mendesak bagi para pembuat kebijakan di negara-negara emerging market dan berkembang adalah bersiap menghadapi kemungkinan tekanan pasar keuangan dan membangun kembali penyangga kebijakan ekonomi makro.

"Para pembuat kebijakan perlu menumbuhkan potensi pertumbuhan yang lebih kuat dengan meningkatkan modal manusia, menghilangkan hambatan investasi, dan meningkatkan integrasi perdagangan dalam sistem multilateral berbasis aturan," kata laporan itu.



Sumber: ANTARA