S&P Pertahankan Peringkat RI, Ini Kata Gubernur BI

S&P Pertahankan Peringkat RI, Ini Kata Gubernur BI
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. ( Foto: Antara / Sigid Kurniawan )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 1 Juni 2018 | 07:42 WIB

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, dipertahankannya peringkat Indonesia oleh Standard and Poor's pada level BBB-/ atau layak investasi (investment grade) dengan prospek stabil merupakan cerminan bahwa fundamental ekonomi Indonesia baik. Selain itu, bauran kebijakan ekonomi domestik semakin kredibel.

Perry mengatakan penegasan S&P itu akan meningkatkan keyakinan investor terhadap perekonomian domestik di tengah risiko ketidakpastian ekonomi global. Dia juga menekankan koordinasi antara otoritas sektor ekonomi untuk menerapkan bauran kebijakan akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan. "Afirmasi tersebut semakin memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut," kata Perry melalui siaran pers di Jakarta, Kamis (31/5).

Dalam publikasinya Kamis, S&P memberikan afirmasi atas peringkat utang Indonesia pada level BBB-/outlook stabil. Beberapa penyebabnya adalah beban utang pemerintah yang relatif rendah, membaiknya kinerja fiskal dan tingkat utang luar negeri yang moderat. "Rasio utang pemerintah terhadap PDB (produk domestik bruto) dalam beberapa tahun ke depan diproyeksikan akan tetap stabil. Hal ini mencerminkan proyeksi keseimbangan fiskal yang juga relatif stabil," tulis S&P.

Selain itu, meningkatnya kolektivitas penerimaan pajak sebagai dampak dari kebijakan amnesti pajak, dan meningkatnya harga minyak dunia dinilai akan memperbaiki pendapatan negara.

Sementara defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan akan menurun dalam beberapa tahun ke depan. Hal itu mencerminkan permintaan eskpor Indonesia memadai dan harga komoditas lebih tinggi.

"Fleksibilitas rupiah dan kebijakan kehati-hatian dalam mengelola risiko utang luar negeri jangka pendek korporasi telah mendorong penurunan rasio kebutuhan pembiayaan eksternal terhadap current account receipt (CAR)," ujarnya.

Secara khusus, Bank Sentral berperan penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi serta meredam tekanan pada perekonomian dan pasar keuangan domestik.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE