Perry: Suku Bunga dan Intervensi Pasar Instrumen Stabilisasi Rupiah

Perry: Suku Bunga dan Intervensi Pasar Instrumen Stabilisasi Rupiah
Perry Warjiyo. ( Foto: Antara / Puspa Perwitasari )
Lona Olavia / WBP Kamis, 24 Mei 2018 | 13:34 WIB

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru dilantik Perry Warjiyo menjanjikan penguatan kebijakan moneter melalui suku bunga acuan dan intervensi pasar untuk menstabilisasi nilai tukar rupiah setelah anjloknya rupiah ke level depresiasi 4 persen sejak Januari hingga 21 Mei 2018.

"Saya akan prioritaskan kebijakan moneter untuk bisa stabilkan kurs rupiah dengan kombinasi kebijakan suku bunga dan intervensi ganda," ujar Perry dalam pernyataan pertamanya setelah dilantik di Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5).

Perry yang selalu mengampanyekan kebijakan moneter pro-pertumbuhan dan pro-stabilitas itu, menekankan instrumen kebijakan moneter akan sepenuhnya digunakan untuk menjaga stabilitas perekonomian. Instrumen moneter diprioritaskan untuk menghadapi tekanan yang disebabkan normalisasi kebijakan moneter AS dan terus naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, US Treasuy Bill yang menyedot modal asing di Indonesia.

Namun, kata dia, BI tidak akan mengabaikan potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya dengan instrumen makroprudensial. "BI masih memiliki empat instrumen lainnya untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Perry yang menghabiskan lima tahun terakhirnya menjadi Deputi Gubernur BI.

Anak petani dari desa di Sukoharjo itu berjanji akan menerapkan kebijakan moneter yang terdepan dan antisipatif atau pre-emptive dan ahead the curve guna merespon dinamika ekonomi global yang penuh dibayangi ketidakpastian. "Nilai tukar sekarang sudah overshoot. Kami juga akan pre-emptive, ahead the curve dalam resep kebijakan suku bunga. Kemudian lakukan intervensi ganda stabilkan kurs dan beli Surat Berharga Negara dari pasar," tambahnya.

Secara umum, Perry akan menjalankan empat langkah jangka pendek untuk menciptakan stabilitas keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Saya akan bawa BI secara penuh menjalankan mandatnya untuk jaga stabilitas ekonomi, terutama inflasi dan nilai tukar rupiah. Untuk jaga stabilitas itu saya akan posisikan untuk mendukung upaya pertumbuhan ekonomi," tegasnya usai dilantik sebagai Gubernur BI periode 2018-2023, di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5).

Tahap awal, BI jelasnya akan memprioritaskan kebijakan moneter untuk bisa menstabilkan kurs dengan mengkombinasikan kebijakan suku bunga dan intervensi ganda. Nilai tukar rupiah pernah berada di Rp 14.209 per dolar AS. Posisi tersebut merupakan level terendah sejak Oktober 2015.

Soal suku bunga, menurut Perry, BI akan lebih responsif dan maju ihwal pengambilan kebijakan suku bunga.

Langkah kedua adalah melakukan intervensi ganda dengan mensuplai foreign exchange serta membeli surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder. Hingga saat ini, Perry mengatakan BI sudah membeli sebanyak hampir Rp 50 triliun SBN yang dijual asing. "Rp 50 triliun itu sejak awal tahun hingga sekarang. Yang paling banyak bulan ini sudah Rp 13 triliun SBN di pasar sekunder," sebutnya.

Ketiga, Perry akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk bersama menstabilkan kurs rupiah. Misalnya, lanjut dia, dalam hal lelang SBN, melakukan buy back, serta mendorong pertumbuhan, dan stabilitas keuangan.

Terakhir, dalam waktu dekat BI berencana untuk bertemu dengan kalangan perbankan serta pelaku usaha. Pertemuan itu bertujuan untuk meyakinkan dua kalangan tersebut ihwal pentingnya menjaga stabilitas keuangan dan membentuk persepsi positif dalam kondisi perekonomian saat ini. "Ini untuk meyakinkan mereka bahwa stabilitas nilai tukar itu penting. Kami perlu dukungan dari perbankan dan dunia usaha," pungkasnya.

Kendati demikian, nilai rupiah yang tertekan sejak awal Februari lalu, menurutnya murni karena tekanan eksternal seperti kenaikan suku bunga Fed Rate di AS. Sedangkan, kondisi di dalam negeri cenderung kondusif, seperti inflasi terjaga di level 3,5 persen, inflasi inti 3,2 persen, hingga pertumbuhan ekonomi kuartal I-2018 sebesar 5,06 persen. Kondisi itu mencerminkan stabilitas yang cukup terjaga. Bahkan dibandingkan negara lain, Indonesia jauh lebih baik karena didukung defisit transaksi berjalan yang masih dalam batasan.

"Dari sisi domestik, ekonomi kita cukup baik. Tekanan nilai tukar karena naiknya yield US treasury di luar prediksi dari 2,5 persen menjadi lebih dari 3 persen, kenaikan Fed rate dari tiga kali menjadi empat kali di tahun ini," ungkapnya seraya menambahkan bahwa Indonesia juga sudah menunjukkan ketahanannya kala diterpa krisis Yunani, Tiongkok, dan AS.

BI, jelasnya memiliki lima instrumen. Satu di antaranya kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas. Empat lainnya misalnya, mempererat pendalaman pasar keuangan khususnya untuk infrastruktur, mendorong strategi nasional ekonomi keuangan digital, dan memperkuat akselerasi pengembangan ekonomi syariah. "Saya sudah ketemu pak presiden membicarakan ekonomi, kita sepakat bahwa untuk memperkuat koordinasi maka pemerintah dan BI perlu memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan," ungkap Perry.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE