Menkeu Harap Perry Warjiyo Bisa Tenangkan Pasar

Menkeu Harap Perry Warjiyo Bisa Tenangkan Pasar
Sri Mulyani. ( Foto: Antara )
/ WBP Kamis, 24 Mei 2018 | 13:29 WIB

Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memiliki harapan besar terhadap Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru, Perry Warjiyo. Dia berharap, kepemimpinan Perry di BI bisa menenangkan masyarakat, pasar, dan di lingkungan BI secara keseluruhan.

Dia mengatakan, pemerintah mendukung sepenuhnya mantan Deputi Gubernur BI ini untuk menjalankan tugasnya sebagai orang nomor satu di bank sentral Indonesia ini. Perry sendiri hari ini dilantik sebagai Gubernur BI periode 2018-2023, menggantikan Agus Martowardojo yang telah mengakhiri masa jabatannya pada 23 Mei 2018.

"Kami dari pemerintah mendukung sepenuhnya dan memberikan support kepada Pak Perry untuk bisa menjalankan tugas sebagai bank sentral, secara efektif, kredibel dan bisa memberikan juga kepemimpinan yang menenangkan masyarakat, pasar maupun dalam lingkungan BI," katanya seusai pelantikan Gubernur BI periode 2018-2023 di Gedung Mahkamah Agung RI, Jakarta, Kamis (24/5)

Wanita yang akrab disapa Ani ini mengaku siap bekerja sama dengan Perry Warjiyo di era yang baru ini. "Dan pemerintah tentu akan terus melakukan kebijakan, respons terhadap kondisi yang ada secara cepat, termasuk melakukan tindakan penyesuaian," imbuh dia.

Menurutnya, saat ini pemerintah dan BI harus fokus pada stabilitas sehingga tidak menimbulkan situasi yang dianggap tidak berkelanjutan (sustainable). "Jadi fokus bersama-sama BI adalah menciptakan suatu stabilitas dalam menjaga keberlangsungan dari upaya pembangunan," tandasnya.

Sementara begitu dilantik, Perry langsung‎ akan membawa BI untuk secara penuh menjalankan mandatnya menjaga stabilitas ekonomi. Secara khusus inflasi dan nilai tukar rupiah yang belakangan ini cenderung melemah. “Tentu saja dalam menjaga itu saya tetap memposisikan mendukung upaya pertumbhhan ekonomi. Saya juga pro growth (pertumbuhan),” katanya.

Pro growth ini dikatakan Perry mempunyai lima instrumen. Pertama memprioritaskan penjagaan stabilitas yaitu kebijakan moneter. Empat instrumen lain yakni mendorong peningkatan ekonomi dengan merelaksasi kebijakan makro prudent, mendorong sektor perumahan yang jadi leading sektor. Dengan dorongan itu akan menjadi pertumbuhan.

Kedua adalah mempercepat pendalaman pasar keuangan khususnya pembiayan infra. Sekuritas berbagai obligasi untuk pembiayaan infrastruktur itu jugu pro growth dengan koordinasi dengan pemerintah dan OJK. Ketiga sistem pembayaran untuk mendukung strategi nasional untuk ekonomi keuangan digital. Kebijakan itu juga gerbang pembayaran nasional fintech.

Keempat adalah adalah memperkuat akselerasi pengembangan eko syariah baik industri halal. Keuangan syariah mauoun pengembangan reseaech serta kampanye gaya hidup halal. "Kebijakan moneter prostability tapi yang empat itu adalah pro growth,” katanya.‎

Perry merupakan pejabat karier di BI. Ia menjabat Deputi Gubernur sejak 15 April 2013. Jabatan tersebut diperolehnya melalui perjalanan panjang. Ia dicalonkan untuk jabatan tersebut sebanyak empat kali sejak 2009, namun baru berhasil lolos pada 2013. Ketika itu, Perry yang menjabat Asisten Gubernur BI menang secara aklamasi di Komisi Keuangan DPR, mengalahkan kandidat lainnya yaitu Hendar yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI.

Pria kelahiran Sukoharjo pada 1959 tersebut telah berkarier di BI sejak 1984. Ia meraih gelar Master dan PhD di bidang Moneter dan Keuangan Internasional dari Iowa State University, Amerika Serikat, masing-masing pada tahun 1989 dan 1991.Sebelum menjabat sebagai Deputi Gubernur, Perry menempati posisi Asisten Gubernur untuk perumusan kebijakan moneter, makroprudensial dan internasional. Jabatan tersebut diemban setelah menjadi Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter. Sebelum itu, Perry sempat menduduki posisi penting sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF), mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group.



Sumber: ANTARA
CLOSE