Saudi Hukum Mati 37 Teroris, 1 Disalibkan

Saudi Hukum Mati 37 Teroris, 1 Disalibkan
Ilustrasi Hukuman Mati ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 24 April 2019 | 14:20 WIB

Riyadh, Beritasatu.com - Arab Saudi menghukum mati 37 warganya atas kejahatan terkait terorisme, bahkan salah satunya disalibkan. Hukuman mati biasanya dilakukan dengan pemenggalan kepala, sedangkan penyaliban setelah eksekusi mati diperuntukkan bagi kejahatan yang dianggap lebih serius.

“Hukuman mati diberlakukan kepada sejumlah penjahat karena mengadopsi ideologi-ideologi ekstrimis teroris dan membentuk sel-sel teroris untuk korupsi, dan mengganggu keamanan serta menyebarkan kekacauan dan memprovokasi perpecahan sektarian,” bunyi pernyataan Kementerian Dalam Negeri Saudi, lewat kantor berita Saudi Press Agency (SPA), Selasa (24/4/2019).

Eksekusi mati dilakukan di beberapa lokasi termasuk di Riyadh, Mekkah, Madinah, Provinsi Qassim, dan provinsi timur yang menjadi tempat bagi minoritas Syiah.

Saudi juga secara terbuka menggantung dua jenazah dari 37 narapidana (napi) itu, selama beberapa jam sebagai peringatan untuk yang lainnya. Aksi penggantungan itu dikecam karena menimbulkan kengerian.

Menurut organisasi hak asasi manusia (HAM), Amnesti Internasional, setidaknya 14 orang yang dihukum mati terkait pelanggaran kekerasan karena partisipasi mereka dalam demonstrasi anti-pemerintah. Salah satu napi adalah seorang pemuda yang ditangkap saat berusia 16 tahun atau masih di bawah umur.

“Eksekusi massal hari ini adalah peragaan mengerikan dari otoritas Arab Saudi yang tidak berperasaan dan mengabaikan kehidupan manusia. Ini juga indikasi lain yang mengerikan bagaimana hukuman mati dipakai sebagai alat politik untuk menghancurkan perbedaan pendapat di dalam minoritas Syiah di negara itu,” kata Direktur Peneliti Timur Tengah Amnesti Internasional, Lynn Maalouf.

Mayoritas napi yang dieksekusi adalah para pria Syiah, termasuk 11 pria yang dituduh menjadi mata-mata Iran dan dihukum mati setelah persidangan yang tidak adil.

Setidaknya 14 orang dihukum mati karena pelanggaran kekerasan terkait partisipasi mereka dalam demonstrasi anti-pemerintah di wilayah Arab Saudi mayoritas Syiah, Provinsi Timur, antara tahun 2011-2012.

Ke-14 orang itu adalah subjek dari tahanan pra-persidangan yang lama dan dilaporkan telah mengalami penyiksaan dan perlakuan buruk selama proses interogasi untuk mengakui kejahatan mereka.

Selain itu, salah seorang napi adalah Abdulkareem al-Hawaj yaitu pemuda Syiah yang ditangkap saat berusia 16 tahun karena pelanggaran terlibat dalam protes anti-pemerintah.

Di bawah hukum internasional, penerapan hukuman mati terhadap orang di bawah umur 18 tahun sangat dilarang. Amnesti juga menyatakan keluarga para napi tidak mengetahui eksekusi tersebut dan terkejut saat mengetahui berita itu.



Sumber: Suara Pembaruan/amnesty.org/Al Jazeera