Sierra Leone Batalkan Pembangunan Bandara Investasi Tiongkok

Sierra Leone Batalkan Pembangunan Bandara Investasi Tiongkok
Sejumlah petugas medis sukarela mendatangi warga di Freetown, Sierra Leone. ( Foto: News Au )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 12 Oktober 2018 | 20:25 WIB

Freetown- Sierra Leone telah membatalkan rencana pembangunan bandara yang kontroversial, senilai US$ 318 juta di pinggiran ibu kota Freetown dengan perusahaan Tiongkok dan didanai oleh pinjaman Tiongkok.

Megaproyek bandara yang akan selesai pada 2022 itu telah diamanatkan oleh presiden sebelumnya, Ernest Bai Koroma pada Maret 2018.

Pembatalan tersebut dilakukan di tengah antusiasme yang meningkat di Pakistan dan Malaysia. Kedua negara itu mengambil pinjaman Tiongkok mendukung proyek infrastruktur berskala besar dalam beberapa bulan terakhir.

Namun keputusan Sierra Leone adalah pertama kalinya pemerintah Afrika membatalkan kesepakatan yang sudah diumumkan, yang didukung Tiongkok. Tidak jelas apakah ada sanksi keuangan terkait dengan pembatalan kesepakatan itu.

"Setelah pertimbangan dan ketekunan yang serius, adalah pandangan Pemerintah bahwa (itu) tidak ekonomis untuk melanjutkan pembangunan bandara baru ketika yang sudah ada terlalu sedikit dimanfaatkan," kata sebuah surat dari Menteri Transportasi dan Penerbangan Sierra Leone kepada direktur proyek, yang diterbitkan di media lokal.

Berbicara kepada BBC pada Rabu (10/10), Menteri Penerbangan Sierra Leone Kabineh Kallon mengatakan bandara saat ini akan direnovasi sebagai gantinya.

"Saya punya hak untuk mengambil keputusan terbaik untuk negara ini," katanya.

Saat ini, Sierra Leone akan meningkatkan bandara yang ada di kota Lungi. Bandara tersebut telah dikritik karena konektivitasnya yang buruk ke ibu kota. Lungi ke Freetown dipisahkan muara sungai, yang berarti butuh perjalanan feri lagi untuk mencapai kota.

Sierra Leone adalah salah satu negara termiskin di Afrika, dan dinilai oleh Dana Moneter Internasional (IMF) memiliki risiko moderat dari kesulitan utang.

Di bawah mantan presiden Koroma, yang menjabat dari September 2007 hingga April 2018, Sierra Leone mengambil utang US$ 224 juta dari Tiongkok. Bahkan utang sejumlah US $ 161 juta pernah diambil hanya pada tahun 2016 saja, menurut Johns Hopkins SAIS China-Africa Research Initiative.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE