Ini Jurus Bertahan Hidup Anak-anak Thailand yang Terperangkap di Gua

Ini Jurus Bertahan Hidup Anak-anak Thailand yang Terperangkap di Gua
Anak-anak yang terperangkap dalam gua. ( Foto: AFP )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Rabu, 11 Juli 2018 | 15:30 WIB

Thailand - Setelah terperangkap di sebuah gua di Thailand selama 18 hari, seluruh 12 anak dan pelatih sepakbola mereka akhirnya berhasil diselamatkan.

"Kami tidak yakin ini semua berkat keajaiban atau ilmu pengetahuan. Semua 13 orang anggota tim sepakbola Babi Liar berhasil diselamatkan. Semua selamat," kata marinir Thailand dalam laman Facebook mereka.

Pelatih Ekapol Chanthawong (25) dan anak-anak latihnya, berusia 11-16 tahun, pergi menjelajahi gua seusai latihan pada 23 Juni lalu. Tiba-tiba gua tergenang air akibat hujan deras. Lalu, 10 hari kemudian mereka ditemukan penyelam Inggris dalam keadaan duduk bermeditasi.

Salah seorang ibu dari anak-anak itu mengatakan mereka tampak tenang dan sabar menanti pertolongan. "Mereka tidak menangis. Luar biasa," kata si ibu kepada kantor berita AP, setelah melihat video anaknya dalam keadaan selamat di gua.

Ekapol, pelatih mereka, ternyata adalah seorang biksu Buddha yang terbiasa bermeditasi. Ekapol hidup di biara pada usia 12 tahun setelah kehilangan kedua orangtuanya. Menurut Straits Times, dia berlatih sebagai biksu selama 10 tahun di sebuah biara di Mae Sai, Thailand. Dia meninggalkan biara untuk merawat neneknya, lalu ditawarkan menjadi asisten pelatih tim Babi Liar.

Menurut beberapa sumber, Ekapol mengajarkan anak-anak latihnya bermeditasi di dalam gua supaya tetap tenang dan menyimpan energi selama dua minggu terperangkap di dalam gua. Ekapol juga memberikan jatah makanan dan minuman untuk anak-anak latihnya.

Pakar meditasi dari Stanford University, Leah Weiss, mengatakan mereka berhasil bertahan selama dua minggu lebih berkat meditasi.

"Bagi penganut Buddhisme, meditasi adalah solusi dalam keadaan bahaya. Melalui meditasi, kapasitas menyelesaikan masalah meningkat meskipun secara kognitif kita dalam keadaan terancam," kata dia.

"Dalam ruangan yang minim oksigen dan makanan, meditasi adalah respon yang paling praktis untuk menghadapi masalah ini," lanjutnya.

Menurut Weiss, meditasi adalah latihan mental yang dapat meningkatkan fokus dan belas kasih terhadap sesama. Meditasi juga memiliki banyak manfaat lain. Meditasi dapat menenangkan dengan cara menurunkan detak jantung, pernafasan, metabolisme, dan pada saat yang sama meningkatkan level cortisol, efisiensi oksigen dan karbon dioksida.

Weiss mengatakan meditasi tidak perlu diasah selama bertahun-tahun. Cukup sering latihan saja. Mulai dari menarik nafas dalam-dalam, rasakan udara masuk melalui lubang hidung masuk ke dalam paru-paru. Lalu, tahan nafas dan hembuskan. Seiring dengan menghembuskan nafas, bayangkan semua stres, kegelisahan, kemarahan keluar bersama nafas.

Banyak orang gelisah karena tidak bisa mengosongkan pikiran saat meditasi, tetapi menurut Weiss, semua itu bagian dari proses.



Sumber: Vox, AP, Straits Times, CNBC
CLOSE