Presiden: Kami Tidak Akan Atur Fintech Terlalu Ketat

Presiden: Kami Tidak Akan Atur Fintech Terlalu Ketat
Presiden Joko Widodo menyampaikan orasi di kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Sumatra Utara, 8 Oktober 2018. Orasi Presiden yang dihadiri ribuan mahasiswa dan civitas akademika tersebut dalam rangka Dies Natalis Ke-66 USU ( Foto: Antara / Irsan Mulyadi )
Nasori / YUD Kamis, 11 Oktober 2018 | 15:41 WIB

Nusa Dua - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, pemerintah tidak akan melakukan pengaturan yang terlalu ketat terhadap industri keuangan berbasis teknologi (financial technology atau fintech) pada masa awal-awal perkembangannya saat ini. Sebaliknya, pemerintah justru akan memberikan lingkungan regulasi yang sangat longgar dan ramah.

"Kita seharusnya tidak terburu-buru mengatur, tetapi harus membuka ruang bagi kemungkinan inovasi," ujar Jokowi saat memberi sambutan pada peluncuran Bali Fintech Agenda oleh Bank Dunia dan IMF di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10). Ini merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tahun IMF-Bank Dunia, 8-14 Oktober 2018.

Menurut Presiden, intervensi pemerintahan yang berlebihan pada tahap awal harus dihindari. "Ini diperlukan agar inovasi berbasis internet bisa menjadi fondasi ekonomi yang dalam dan kuat, terlebih terkait sistem pembayaran," kata dia.

Presiden membandingkannya dengan booming internet sekitar 25 tahun yang lalu terkait dengan fenomena perkembangan industri keuangan berbasis teknologi saat ini. "Eksperimen itu penting. Jangan menghukum kegagalan," tandas Jokowi.

Pada era saat semua mudah menjadi viral, regulasi restriktif dan proteksionis justru akan mendorong konsumen masuk ke area yang tidak diatur. "Jika kita mengatur terlalu ketat atau bergerak menuju sistem tertutup, itu berpotensi menekan tindakan yang lebih aktif dan inovatif," pungkas Presiden.

Bali Fintech Agenda adalah satu paket dari 12 elemen kebijakan yang bertujuan membantu negara-negara anggota Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia untuk memperoleh manfaat dan peluang kemajuan pesat dalam teknologi keuangan. Kemajuan ini pada satu sisi telah mengubah penyediaan layanan perbankan, sementara pada saat yang sama muncul risiko yang meningkat.



Sumber: Investor Daily
CLOSE