Holding BUMN Tambang Mampu Beli 41% Saham Freeport

PT Timah Tbk
Rangga Prakoso / HA Jumat, 24 November 2017 WIB

Jakarta - Holding BUMN pertambangan memiliki kemampuan pendanaan hingga sekitar Rp 180 triliun. Jumlah tersebut merupakan tiga kali lipat dari modal keempat BUMN tambang yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang menjadi induk perusahaan dari tiga BUMN lain yakni PT Timah, PT Aneka Tambang (Antam) dan PT Bukit Asam (PTBA).

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan modal keempat BUMN mencapai Rp 65 triliun.

"Kemampuan keuangan saat digabung ekuitasnya menjadi Rp 65 triliun. Kalau di-leverage (ditambah dana pinjaman) rule of thumb-nya tiga kali Rp 180 triliun," kata Fajar di Jakarta, Jumat (24/11).

Fajar menuturkan dengan kemampuan itu maka holding BUMN mampu mencaplok 41,64% saham divestasi PT Freeport Indonesia. Namun dia mengaku belum bisa memastikan berapa valuasi saham 41,64% Freeport.

Dia hanya mengatakan kewajiban divestasi holding tidak sampai 41,64% lantaran pemerintah daerah mendapat jatah 10% dari jumlah divestasi tersebut.

"(Valuasi saham) masih dalam perundingan. Taruhlah angkanya US$ 3 miliar bisa di-leverage dua kali (ekuitasnya) menjadi Rp 120 triliun," ujarnya.

Dalam rapat kerja dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 9 Oktober lalu, Jonan menjelaskan estimasi nilai 51% saham Freeport Indonesia sebesar US$ 4 miliar merupakan harga wajar pasar atau fair market price berdasarkan perhitungan penutupan kapitalisasi Freeport McMoRan Inc pada New York Stock Exchange (NYSE).

Sedangkan kontribusi anak usaha Freeport McMoRan yakni Freeport Indonesia dari pendapatan dan keuntungan dalam lima sampai 10 tahun terakhir masuk 40%. Artinya nilai 100% saham Freeport Indonesia hanya US$ 8 miliar.

"Kalau dilihat valuasi harga 51% itu hanya US$ 4 miliar. Jadi tinggal minta harga premiumnya berapa," ujar Jonan.



Sumber: BeritaSatu.com