Australia Gelar Pemilu Federal untuk Tentukan PM

Australia Gelar Pemilu Federal untuk Tentukan PM
Seorang pemilih memberikan kertas suara ke kotak suara di tempat pemungutan suara saat pemilihan umum Australia di Sydney, Australia, pada Sabtu (18/5/2019). ( Foto: AFP / Saeed Khan )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Sabtu, 18 Mei 2019 | 18:27 WIB

Sydney, Beritasatu.com- Sekitar 16,4 juta rakyat Australia memulai pemilu federal untuk memilih anggota Parlemen ke-16 Australia pada Sabtu (18/5) pagi. Pemilu di Australia diikuti oleh warga berusia minimal 18 tahun dan bersifat wajib, artinya mereka yang tidak mengikuti pemilu akan dikenakan denda.

Pemilu kali ini bertujuan memilih wakil rakyat di seluruh 151 kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan 40 dari 76 kursi di Senat. Pertarungan utama adalah antara koalisi minoritas petahana (incumbent) yaitu Koalisi Nasional Liberal (LNC) atau lebih dikenal dengan “Koalisi”, yaitu terdiri dari Partai Liberal Australia dan Partai Nasional Australia, melawan Partai Buruh (ALP).

Australia sejauh ini sudah memiliki enam perdana menteri (PM) dalam kurun 12 tahun, sehingga pemilu hari ini penting untuk mengamankan stabilitas politik. Pemungutan suara akan digelar pukul 08.00-18.00 waktu setempat dan hasilnya langsung diumumkan beberapa jam setelahnya atau pada Sabtu malam.

PM Scott Morrison dari kubu Koalisi mengaku telah menyatukan pemerintah konservatifnya selama sembilan bulan berkuasa setelah menggantikan Malcolm Turnbull. Sedangkan, pemimpin Partai Buruh Bill Shorten menyatakan memiliki alternatif kebijakan yang jelas.

Tempat-tempat pemungutan suara (TPS) biasanya dilokasikan di aula-aula gereja setempat, sekolah-sekolah, dan bangunan publik lainnya. Pemilih harus memberikan alasan sah jika tidak bisa memberikan suara dalam pemilu Sabtu ini.

Australia menggelar pemilu setiap tiga tahun sekali, tapi tidak ada satu pun PM yang menyelesaikan masa jabatannya sejak tahun 2007.

Pemungutan suara digelar hanya dua hari setelah kematian Bob Hawke, yaitu mantan PM Australia yang lama menjabat dan memiliki prestasi yang menuai banyak pujian. Hawke menjabat PM tahun 1983-1991 dan meninggal dalam usia 89 tahun.

Pemimpin Partai Buruh, Shorten, mengatakan kematian Hawke membuatnya lebih bertekad dari sebelumnya.

“Saya telah merasa mempunyai tanggung jawab kepada jutaan orang untuk menang. Tapi tentu saja, saya juga ingin melakukannya untuk Bob. Saya tidak ingin membiarkan kenangannya hilang,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan