Terima Suap, Oposisi Peru Ditangkap

Terima Suap, Oposisi Peru Ditangkap
Ilustrasi korupsi. ( Foto: ist )
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 12 Oktober 2018 | 06:43 WIB

Lima-Pemimpin oposisi Peru Keiko Fujimori ditangkap atas dugaan pencucian uang saat kampanye pemilihannya, Rabu (10/10). Putri dari mantan presiden Alberto Fujimori ditahan ketika tiba di kantor kejaksaan negara untuk memberikan bukti dalam kasus tersebut.

Menurut pengacara Giuliana Loza, Keiko diduga melakukan pencucian uang yang melibatkan raksasa konstruksi Brasil, Odebrecht. Wanita berusia 43 tahun itu ditangkap atas perintah jaksa yang menyelidiki kontribusi tersangka untuk kampanye pemilihannya.

Loza mengatakan Keiko Fujimori dimasukkan dalam tahanan preventif selama 10 hari. Penahanan ini digambarkan sebagai pelecehan terhadap pemimpin oposisi.

Keiko Fujimori memimpin partai oposisi konservatif yang kuat, Popular Force, yang memiliki mayoritas di Kongres dan merupakan kunci untuk membantu pelengseran mantan presiden Pedro Pablo Kuczynski dalam skandal korupsi pada Maret.

Setidaknya 19 orang lainnya telah ditangkap dalam kasus terkait dengan sumbangan kepada Popular Force selama kampanye presiden 2011 Fujimori. Peru membatalkan pengampunan mantan pemimpin Fujimori dan memerintahkan penangkapannya.

Sejak Juni, jaksa telah menyelidiki dugaan bahwa tiga mantan presiden menerima suap yang disamarkan sebagai dana kampanye dari Odebrecht, yang menjadi pusat skandal politik di Amerika Latin.

Menurut jaksa, mantan presiden Pedro Pablo Kuczynski, Alan Garcia dan Alejandro Toledo telah mengambil sumbangan kampanye yang tidak diumumkan dengan menukar janji untuk membuat perusahaan raksasa konstruksi Brasil memenangkan tender lokal.

Jaksa penuntut juga sedang menyelidiki mantan presiden Ollanta Humala karena diduga mengambil U$ 3 juta (sekitar Rp 44,4 miliar) dalam suap dari Odebrecht. Penyelidikan jaksa berasal dari interogasi Jorge Barata, seorang Brasil yang merupakan mantan bos Odebrecht di Peru.

Jaksa mengatakan kepada penyelidik Brasil bahwa Barata membagikan jutaan dolar kepada kandidat presiden Peru antara 2001 dan 2016.

Dalam pemilihan 2011, Odebrecht memberikan uang kepada empat kandidat, Barata mengatakan kepada jaksa bahwa uang dibagi senilai US$ 1,2 juta (sekitar Rp 17,7 miliar) untuk Keiko Fujimori, US$ 700.000 (Rp 10,3 miliar) ke Toledo dan US$ 300.000 (Rp 4,4 miliar) untuk Kuczynski.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE