Miliarder Termuda Afrika Diculik di Tanzania

Miliarder Termuda Afrika Diculik di Tanzania
Mohammed Dewji ( Foto: AFP )
Jeanny Aipassa / JAI Jumat, 12 Oktober 2018 | 12:04 WIB

Dar es Salaam - Miliarder termuda Afrika, Mohammed Dewji, dilaporkan diculik di depan Colosseum Hotel dan Fitness Club, di Dar es Salaam, Tanzania, Kamis (11/10). Pemilik dan CEO Mohammed Enterprises Tanzania Ltd (METL), diculik oleh dua pria bertopeng yang menembakan senjata ke udara dan menodongnya. 

Polisi Tanzania mengatakan telah memburu para penculik, meski belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab atas penculikan tersebut. 

"Polisi memiliki 12 tersangka yang telah ditahan, termasuk manajer Hotel Colosseum," kata Komisioner Regional Dar es Salaam, Paul Makonda, seperti dikutip AP, Kamis.

Menurut dia, Dewji diculik ketika hendak masuk ke Hotel Colosseum untuk mengikuti latihan fisik rutin yang dilakukannya setiap pagi di di Fitness Club yang berada di hotel itu. Saat keluar dari mobilnya di halaman parkir, terdengar bunyi tembakan dan dua orang pria langsung menodongkan senjata dan menyergapnya, kemudian membawanya pergi. 

Hingga kini polisi masih menyelidiki motif penculikan tersebut. Dewji yang berusia 43 tahun, dijuluki sebagai miliarder termuda dengan nama tenar "Mo" karena memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp  22,5 triliun.

Dewji mengepalai METL Group, yang didirikan pada 1970-an oleh ayahnya dan menyebut dirinya "perusahaan asal-rumahan terbesar" Tanzania. Dia sempat bertugas sebagai anggota Parlemen Tanzania dari tahun 2005 hingga 2015.

METL adalah perusahaan yang memiliki aset senilai US$ 1 miliar dan mempekerjakan sekitar 24.000 orang di industri pertanian, manufaktur, energi dan minyak, jasa keuangan, telepon seluler, infrastruktur dan real estat.

Dewji dikenal berjiwa sosial dan menjadi pengusaha Tanzania pertama yang bergabung dengan Giving Pledge, sebuah komunitas milyarder yang berkomitmen membantu mengatasi masalah-masalah paling mendesak masyarakat, dengan berjanji untuk memberikan lebih dari setengah kekayaan mereka untuk amal.

"Peran kita sebagai warga dunia ini adalah untuk benar-benar mendukung kemajuan masyarakat kita, sehingga generasi masa depan kita, dan keturunan mereka tumbuh untuk hidup yang lebih baik dan bahkan lebih dari yang mereka pikir mungkin bagi mereka saat ini," kata Dewji, dalam pernyataan di situs Giving Pledege.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE